CSR

Posted in 1 on May 16, 2009 by ahmadsobandi

Undang-undang perseroan terbatas memuat kewajiban perusahaan untuk melakukan kegiatan CSR, persoalan ini telah semakin menarik perhatian korporasi. Pemerintah tidak memberikan panduan praktik CSR yang baik sehingga banyak korporasi yang menciptakan program CSR sebagai program amal. Perdebatan akademik dan miskonsepsi mengenai corporate social responsibility melahirkan berbagai pendapat yang menyarankan program CSR berbeda-beda.

Tujuan utama korporasi, yakni untuk mencari profit harus diimbangi dengan ketaatan terhadap peraturan hukum yang berlaku, diantaranya aturan perburuhan dan aturan kelestarian lingkungan. Selain memiliki kewajiban terhadap pemilik modal, korporasi juga harus dapat memenuhi harapan para pemangku kepentingan, yakni pemerintah, karyawan, dan masyarakat sekitar. Sustainabilitas sebuah korporasi dapat ditentukan oleh perimbangan perhatian terhadap dua hal tersebut (shareholder dan stakeholder). Program CSR tampaknya menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari oleh sebuah korporasi untuk mewujudkan perimbangan ini, yakni sebagai bentuk tanggung jawab kepada stakeholder.

Cara yang terbaik untuk menunjukkan CSR adalah dengan menurunkan harga jual produk yang dijual ke masyarakat ?

Menurut saya hal ini sangat tergantung pada model bisnis perusahaan bersangkutan. Ada aktivitas CSR yang dapat berkaitan langsung dengan bisnis inti, ada pula yang tidak bisa.

Jika perusahaan tersebut:

  1. produknya menguasai hajat hidup orang banyak dan digunakan oleh masyarakat luas;
  2. oleh karena faktor-faktor tertentu masyarakat tidak mempunyai pilihan lain selain produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut (tidak ada substitusi);
  3. produknya dapat menjadi pemicu pergerakan ekonomi masyarakat;

maka salah satu program CSR-nya dapat berkaitan dengan bisnis inti perusahaan tersebut, diantaranya dalam penurunan harga jual produk. Perusahaan-perusahaan yang dapat melakukan program CSR seperti itu diantaranya adalah perusahaan yang menjual produk berikut:

  • informasi dan komunikasi;
  • energi listrik;
  • bahan bakar untuk umum;
  • kredit perbankan untuk usaha mikro, kecil dan menengah;
  • bahan kebutuhan pokok

Meskipun berkaitan langsung dengan kegiatan inti perusahaan, kegiatan CSR tetap harus dipisahkan dari kegiatan marketing.

 

Menurunkan harga jual produk tentu akan secara langsung berakibat pada penurunan profit dari produk yang terjual, akan tetapi akan memberikan benefit. Selainkan mengokohkan entitas bisnis korporasi, CSR juga mencitrakan sebagai perusahaan yang peduli pada pertumbuhan kesejahteraan masyarakat. Tetapi apakah merupakan praktek CSR yang baik?

 

Program-program CSR harus melalui pengkajian terhadap kondisi sosial ekonomi, kondisi lingkungan, dan visi – misi korporasi. Program CSR merupakan bentuk kepedulian korporasi terhadap hal tersebut di atas, oleh karena itu maka pola penyusunan program CSR harus merupakan inisiatif top down, harus diprakarsai oleh top management. Kegiatan-kegiatan program CSR harus mencerminkan triple bottom line yang meliputi kegiatan ekonomi, masyarakat dan lingkungan hidup.

Ditinjau dari aspek-aspek yang harus dipenuhi dalam program CSR, menurunkan harga jual produk hanya memenuhi aspek tertentu saja, tidak dapat mencakup keseluruhan aspek. Perlu tindakan yang lainnya yang harus dilakukan oleh korporasi untuk memenuhi aspek-aspek program CSR. Namun demikian, korporasi harus fokus dalam menetapkan program CSR yang akan dijalankannya, agar hasilnya dapat signifikan. Korporasi dapat memilih topik-topik krusial yang dibutuhkan oleh masyarakat, baik masyarakat sekitar domisili korporasi, maupun masyarakat di wilayah lain yang perlu diperhatikan. Setelah dipilih fokus kegiatan CSR, korporasi harus mampu melakukan asessment internal untuk menilai kapasitas organisasi dalam menjalankan program CSR tersebut. Jika penurunan harga jual produk merupakan satu langkah yang dapat dilakukan, maka hal itu dapat dijalankan sejauh tidak menggangu aktivitas utama sebagai entitas bisnis.

 

Sebaliknya, untuk perusahaan-perusahaan yang produknya bukan merupakan bahan kebutuhan pokok masyarakat, dapat memilih program CSR yang tidak berkaitan langsung dengan bisnis inti perusahaan.

 

Arsitektur pemasaran Diklat pada PPPPTK BMTI

Posted in 1 on May 2, 2009 by ahmadsobandi

 

 

Sesuai dengan namanya, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri memiliki core business pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) khususnya PTK sekolah kejuruan. Salah satu produk andalan institusi ini adalah jasa pendidikan dan pelatihan peningkatan kompetensi. Sejak awal berdiri hingga sekira awal tahun 2000, PPPPTK BMTI berkonsentrasi pada segmen PTK SMK karena memang tugas pokok dan tanggung jawabnya adalah pengembangan PTK SMK. Pada era otonomi daerah sekarang ini PPPPTK BMTI sebagai UPT Depdiknas menjadi terbatas dalam menjangkau stakeholder sekaligus konsumen utamanya, yakni PTK sekolah menengah kejuruan. Menghadapi kondisi ini PPPPTK BMTI harus memperhitungkan kembali strategi bisnis, tactic, dan value yang dimilikinya, sementara kapasitas dan kapabilitasnya yang telah dikembangkan selama puluhan tahun dituntut untuk dapat dimanfaatkan secara optimal.

 

Menghadapi perkembangan yang terjadi belakangan ini, menurut saya langkah-langkah yang harus ditempuh adalah:

 

Segmentasi: memperluas Segmen pasar

Semakin terbatasnya akses terhadap konsumen menuntut organisasi harus mampu memperluas pasar yang selama ini digarap. Dynamic attribute segmentation merupakan pendekatan yang tepat untuk menghadapi kondisi pasar yang juga dinamis. Organisasi harus mampu meraih pasar yang selama ini terabaikan yakni PTK di luar sekolah menengah kejuruan, diantaranya PTK SD – SMA, PTK pendidikan non formal, dan tenaga instruktur di industri. Oleh karena itu organisasi melakukan segmentasi terhadap pasar semacam itu. Untuk memanfaatkan idle capacity yang dimiliki lembaga, individual juga menjadi pasar yang menarik untuk digarap.

 

Targetting: fokus pada kompetensi vokasional

Target segmen pasar PPPPTK BMTI harus semakin dipertajam, yakni PTK vokasional. Segmen ini cukup besar karena meliputi berbagai kelompok, tidak hanya PTK sekolah menengah kejuruan. Untuk menggarap segmen ini organisasi memiliki keunggulan kompetitif yang cukup kuat dan harus terus dikembangkan, yakni sumber daya manusia yang memiliki kompetensi kejuruan spesifik, kualifikasi pendidikan dari dalam dan luar negeri, dan pengalaman praktis di dunia industri; puluhan tahun pengalaman organisasi sejak menjadi perintis dalam pengembangan pendidikan kejuruan; serta jejaring dengan dunia industri dan asosiasi profesi baik dalam maupun luar negeri. Persaingan dalam menggarap segmen ini belum terlalu ketat, mengingat pemain di segmen ini belum begitu banyak. Akan tetapi organisasi perlu memperhitungkan tingkat persaingan di masa yang akan datang karena organisasi/lembaga sejenis yang dikelola pihak swasta mulai tumbuh.

 

Positioning: lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan profesional berwawasan global

Sejak pendirian, PPPPTK BMTI menerapkan sistem pendidikan yang sangat ketat dalam menjaga kualitas lulusan dan mempersiapkan lulusannya untuk unggul dalam persaingan global. Pada saat awal pengembangannya, pendidikan kejuruan merupakan sektor ‘kelas dua’ dalam tatanan pendidikan formal di Indonesia. Akan tetapi, organisasi berhasil menanamkan ‘pride, dignity, dan identity’ pada peserta didiknya sehingga para alumni berprestasi menonjol di tempat kerja masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya. Kini persepsi masyarakat mengenai pendidikan kejuruan telah berubah, pendidikan kejuruan telah berhasil menempatkan diri ’sejajar’ bahkan ‘diatas’ pendidikan formal lainnya. Oleh karena itu sekaranglah saatnya organisasi melakukan reposisi sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan profesional berwawasan global, sesuatu hal yang masih terpatri dalam benak dan memori para alumni.

 

 

Diferensiasi

Dalam upaya melakukan diferensiasi, organisasi harus menciptakan program-program yang unik dengan layanan prima. Konten disusun dengan komposisi 60% praktek kejuruan, 30% teori kejuruan, dan 10% pendalaman kompetensi humaniora (keguruan, psikologi, dan komunikasi masa). Program yang ditawarkan ini didukung oleh pelayanan prima, diantaranya dengan metode dan model pembelajaran yang efektif dan efisien, pembelajaran yang terintegrasi dengan industri; serta infrastruktur yang memungkinkan peserta diklat fokus dan mendapatkan nilai lebih dari apa yang diharapkannya. Dukungan infrastruktur ini diantaranya adalah ruang kelas, lab, bengkel, dan workshop yang representatif; asrama yang terintegrasi dalam kampus dengan layanan setara hotel berbintang; SDM yang memiliki kualifikasi pendidikan spesifik, kompeten di bidangnya, dan pengalaman praktis di industri; serta dukungan teknologi informasi dalam pelayanan administrasi mulai dari self registration secara online, self access sumber belajar dan evaluasi, pelayanan keuangan, hingga evaluasi dampak diklat.

 

Marketing mix: Alumni sebagai media pemasaran

Bagi organisasi yang menjual produk jasa berupa pendidikan dan pelatihan, alumni dapat dijadikan sebagai ujung tombak pemasaran. Selama mengikuti proses, peserta diklat harus dijaga agar kompetensi yang diharapkannya tercapai, kepuasannya terjaga, serta pendidikan dan pelatihan yang dijalaninya memberikan dampak positif bagi pengembangan dirinya. Menyampaikan ‘pesan’ melalui alumni adalah media komunikasi efektif dalam pemasaran jasa diklat.

 

Selling: memelihara hubungan dengan alumni untuk meningkatkan penjualan

Jalinan yang kuat antara organisasi dan alumni telah menumbuhkan jejaring yang sebelumnya tidak diperhatikan. Ibarat anak dengan induknya, meskipun sudah ‘disapih’ alumni akan masih dapat mengandalkan organisasi tempatnya ‘ditempa’ untuk mendapatkan saran pengembangan bagi kompetensi yang telah diperolehnya. Organisasi harus tetap memelihara hubungan harmonis ini agar dapat mempertahankan daya jualnya. Saya akan bertumpu pada jejaring antara organisasi dengan alumni sebagai kekuatan selling utama. Program-program penjualan lainnya dibentuk untuk membangun dan mendukung kekuatan selling utama tersebut.

 

 

 

Brand: memperkuat identitas organisasi

Bagi sebuah organisasi yang menjual jasa pendidikan dan pelatihan, menciptakan brand adalah satu hal yang sulit, akan tetapi sangat menantang. Pada kebanyakan kasus, brand suatu produk akan melekat dengan pencitraan organisasi/korporasi. Demikian pula pada organisasi yang menjual jasa diklat, brand tersebut akan tercermin dari citra organisasi/korporasi itu sendiri. Oleh karena itu, saya akan berupaya untuk tetap memelihara dan memperkuat brand image yang sudah melekat pada organisasasi saya: TEDC (technical education development center). Brand image yang dimiliki organisasi saya sekaligus merupakan identitas organisasi, yaitu pelopor dan pengembang pendidikan menengah kejuruan.

 

Service: mendidik, melatih, dan mengembangkan kompetensi para profesional

Menciptakan tenaga terampil di bidang vokasional mungkin dapat dilakukan dengan cara selain pendidikan dan pelatihan, misalnya program magang atau autodidak. Akan tetapi, organisasi saya menawarkan peningkatan kompetensi tenaga profesional tidak hanya pada ranah keterampilan vokasional semata, akan tetapi juga pada ranah emosional, manajerial, dan ranah lain yang dihasilkan dari suatu proses pendidikan. Selain peningkatan kompetensi di bidang kehaliannya, organisasi harus mampu membuka peluang karir yang lebih baik bagi pelanggan (alumninya) sebagai bagian dari dampak pendidikan dan pelatihan.

 

Process: sang senjata pemusnah massal

Bagi saya, pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan merupakan hal yang paling utama dalam menjalankan core business organisasi. Maju-mundur, kuat-lemahnya organisasi ditentukan oleh keberhasilan proses ini karena dalam proses ini banyak pihak yang terlibat, baik pihak internal maupun pihak eksternal organisasi. Pemantauan terhadap proses penyelenggaraan diklat menjadi tugas penting yang harus dilakukan agar semua pihak mendukung upaya value creation yang dilakukan oleh organisasi. Semua aktivitas yang dilakukan diupayakan bermuara kepuasan pelanggan, baik kepuasan pelayanan akademik, pelayanan non akademik, maupun ketercapaian tujuan organisasi. Pada tahap ini pengendalian atas aktivitas pihak pendukung kegiatan harus mendapat porsi yang cukup, supaya proses ini mampu memperkuat brand image yang melekat pada organisasi.

1001. Program ‘tepat waktu’

Posted in 1 on April 14, 2009 by ahmadsobandi

Umumnya cara yang relatif mudah dilakukan untuk ‘melihat’ bahwa suatu organisasi memiliki dan menumbuhkan budaya tepat waktu adalah dengan memperhatikan aktivitas pekerjanya. Apakah seorang pekerja hadir di tempat kerjanya sesuai dengan yang dijadwalkan, ataukah berdasarkan kebutuhan organisasi. Hadir tepat waktu di tempat kerja dengan disiplin tepat waktu adalah dua hal berbeda, tetapi saling berkaitan. Sebagian menganggap bahwa seorang pekerja yang hadir tepat waktu dan berada seharian di tempat kerjanya mencerminkan telah terciptanya budaya disiplin dalam hal waktu. Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena kita juga harus mengukur volume kerja dan efektivitas dalam melakukan pekerjaan. Ada suatu bidang pekerjaan yang memerlukan pekerjanya hadir tepat waktu, dan seharian berada di tempat kerjanya, terutama bila pekerjaan itu berkaitan dengan pelayanan umum. Tetapi ada pula bidang pekerjaan yang secara fisik tidak memerlukan kehadiran pekerjanya secara tepat waktu, atau seharian berada di tempat kerja.

Untuk mengukur apakah suatu organisasi memiliki budaya tepat waktu, tidak hanya ditentukan oleh satu faktor kehadiran pekerja di tempat kerja saja, meskipun itu adalah hal normatif yang sudah harus terpenuhi,
menjadi
satu faktor utama. Faktor-faktor penentu lainnya, diantaranya beban kerja, distribusi pekerjaan, kompetensi pekerja, tanggung jawab dan wewenang (diantaranya memuat job description dan job specification), perlu pula dijadikan pertimbangan.

Tepat waktu dalam bekerja sebenarnya sangat berkaitan erat dengan kebiasaan seseorang dalam menepati janji, dan bagaimana seseorang itu dapat mengingat-ingat janjinya untuk segera ditepati. Oleh karena itu dalam membangun disiplin tepat waktu seorang manajer harus mampu membangkitkan kebiasaan tersebut menjadi hal yang diperhatikan oleh pekerja. Sehubungan dengan hal-hal di atas, program tepat waktu untuk unit kerja saya, saya rancang sebagai berikut:

 

  1. Biasakan melakukan briefing setiap pagi sebelum memulai aktivitas pekerjaan, dan sore sebelum pulang kantor.

    Kegiatan ini harus dilakukan setiap hari untuk membiasakan staf memulai dan mengakhiri pekerjaan sesuai alokasi waktu yang diberikan. Kegiatan ini juga diperlukan untuk melakukan perencanaan, pengaturan strategi, dan evaluasi atas pekerjaan-pekerjaan yang dihadapi hari ini. Briefing juga merupakan salah satu sarana untuk berkomunikasi dengan staf mengenai masalah yang dihadapi masing-masing staf maupun secara bersama-sama pada saat itu.

    Dengan melakukan briefing secara rutin, diharapkan aspek normatif pekerja sebagai target minimal (kehadiran tepat waktu) dapat tercapai

     

  2. Sesuaikan jenis dan spesifikasi pekerjaan dengan kompetensi pekerjanya.

    Terdapat dua pilihan:

    1. mengidentifikasi dan memilihkan jenis pekerjaan untuk staf (dengan kompetensi tertentu) yang telah ada, atau
    2. memilih/merekrut staf baru dengan kompetensi spesifik tertentu untuk jenis-jenis pekerjaan dalam unit kerja.

    Spesifikasi pekerjaan dan kompetensi yang sesuai menjadi hal yang penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik, agar pekerja dapat melakukan pekerjaan tidak hanya sekedar memenuhi/menggugurkan kewajiban, akan tetapi dapat muncul kecintaan akan pekerjaan tersebut.

    Tahap selanjutnya adalah tentukan tanggung jawab dan wewenang masing-masing staf terhadap pekerjaannya. Nyatakan tangung jawab dan wewenang tersebut secara tertulis, dan letakkan di tempat yangmudah dilihat. Dengan demikian setiap staf terus-menerus diingatkan akan tugas dan tanggung jawabnya.

     

  3. Pemerataan distribusi pekerjaan. Strategi ini merupakan involvemetn of people, atau keterlibatan semua staf dalam suatu pekerjaan.

    Salah satu yang hal yang sulit dalam organisasi pemerintah adalah pemerataan distribusi pekerjaan dalam satu unit kerja. Seringkali seorang staf merasa bahwa volume pekerjaannya begitu banyak dan menuntut kecermatan dan tanggung jawab yang tinggi, sementara ia melihat staf lain tidak jelas pekerjaannya. Hal ini akan berakibat pada penumpukan pekerjaan pada satu titik tertentu, sehingga target-target pekerjaan yang didasarkan pada ketepatan waktu akan sulit terpenuhi.

    Sedapat mungkin pekerjaan harus didistribusikan ke semua staf yang ada, sebarapa kecil pun peran mereka dalam penyelesaian pekerjaan akan sangat berarti. Pekerja akan merasa mendapat penghargaan bila bagian dari pekerjaan itu merupakan tanggung jawabnya.

     

  4. Jadwal, deadline, dan pemantauan pekerjaan.

    Setiap staf diminta untuk membuat jadwal proses penyelesaian pekerjaannya, kemudian menetapkan deadline pekerjaan tersebut, dan manajer membuat chart, checklist, atau alur untuk memantau pekerjaan masing-masing staf tersebut.

    Penjadwalan sebuah pekerjaan menjadi sangat penting terutama jika pekerjaan itu merupakan bagian dari sebuah proses yang besar dan saling bekaitan. Kita harus membiasakan staf kita untuk membuat jadwal atas pekerjaannya, sesederhana apapun, memuat kapan pekerjaan itu dimulai, kapan harus selesai, dan bagaimana serta berapa lama proses pekerjaan. Deadline ditentukan oleh manajer, kemudian manajer dari waktu ke aktu memantau perkembangan pekerjaan tersebut, dalam bentuk berupa bar chart, atau check list.

    Staf dapat berkonsultasi secara langsung dengan manajer ketika menghadapi kesulitan dalam menangani pekerjaan. Kesulitan-kesulitan yang tidak dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri, dipecahkan secara bersama-sama.

     

  5. Pertegas punishment and reward.

    Dalam konteks ini, organisasi pemerintah seringkali kesulitan menerapkan reward and punishment secara konsisten. Seringkali staf menafsirkan bahwa reward and punishment hanya berkaitan dengan ‘gaji’ dan penghasilan, mereka lupa bahwa kesempatan dalam menambah panjang portofolio pekerjaan merupakan salah satu bentuk reward yang diberikan. Pemberian reward kepada staf yang berhasil menyelesaikan pekerjan-pekerjaan secara tepat waktu mutlak diperlukan agar menjadi pemicu bagi staf lain untuk berbuat serupa.

    Penerapan reward and punishment secara finansial dalam organisasi pemerintah pun saat ini dimungkinkan berkat muali diberakukannya sistem remunerasi baru yang didasarkan pada spesifikasi pekerjaan, volume, beban tanggung jawab, dan kebutuhan kompetensi pekerjanya.

    Ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan dapat dijadikan salah satu kriteria yang menentukan besarnya upah seorang staf, jika ketepatan waktu itu merupakan salah satu spesifikasi suatu pekerjaan. Dengan demikian, penerapan reward dan punishment secara finansial dalam suatu organisasi pemerintah bukan lagi suatu hal yang ‘aneh’ dan menjadi kendala.

     

  6. Menyusun suatu sistem manajemen mutu yang mampu mendorong setiap pekerja untuk bekerja secara tepat waktu.

    Sistem manajemen mutu dapat bekerja secara efektif dalam meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan. Penerapan sistem manajemen mutu menuntut komitmen kuat seluruh elemen dalam suatu organisasi, tidak hanya jajaran manajemen. Melalui penerapan sistem manajemen mutu yang konsisten, organisasi diharapkan mampu memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dan meningkatkan kinerja organisasi secara terus-menerus (continual improvement).

Melalui penerapan sistem manajemen mutu, organisasi tidak hanya melayani dan memenuhi tuntutan klien (pelanggan external) tetapi juga dituntut memperhatikan kebutuhan pekerja (pelanggan internal) untuk mengaktualisasikan kompetensi yang dimilikinya.

Seberapa Entrepreneurialkah Saya?

Posted in 1 on April 7, 2009 by ahmadsobandi

 

Terdapat beberapa perkembangan pemikiran subyektif saya mengenai entrepreneurship, yang masing-masing cukup berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dalam melangkah. Pemikiran-pemikiran itu diantaranya adalah:

  1. Entrepreneurship adalah suatu bakat alami, yang diwariskan oleh pendidikan internal dalam keluarga entrepreneur.

    Pemikiran ini sempat “mengganggu” kehidupan saya dengan memunculkan keraguan-keraguan dalam benak saya ketika menentukan keputusan untuk bekerja atau menciptakan pekerjaan. Pada tahap ini saya mengidentikkan entrepreneur dengan wirausahawan, sehingga saya merasa ragu apakah saya dapat bertahan menjadi seorang wirausahawan. Setelah mengalami kegagalan ketika mencoba beberapa bidang usaha, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi pegawai, dan berhenti berwirausaha.

  2. Entrepreneurship adalah kemampuan yang muncul dari dalam diri, ketika diri kita memiliki cita-cita, mimpi, dan menjadikan cita-cita atau mimpi itu menjadi tantangan yang harus diwujudkan.

    Pemikiran ini memunculkan anggapan dalam diri saya bahwa seorang entrepreneur itu adalah seorang yang egois, ambisius, dan cenderung menempuh berbagai cara untuk mewujudkan keinginan-keinginannya. Saya merasa bukan tipe seperti itu, sehingga saya menilai bahwa saya bukanlah seorang entrpreneur.

  3. Entrepreneurship adalah kemampuan yang diperoleh dari lingkungan, baik berupa tuntutan, tuntunan, tekanan, dan dorongan.

    Pemikiran ini memberikan dugaan kuat bahwa entrepreneur berkaitan erat dengan keberuntungan semata-mata. Pada pemikiran ini, saya cenderung menyalahkan lingkungan, mengapa tidak mampu menempa saya menujadi seorang entrepreneur?

Dalam paradigma lama, entrepreneurship cenderung identik dengan kemampuan untuk menghasilkan gagasan-gagasan besar untuk menciptakan sesuatu penemuan baru. Sementara dalam paradigma ekonomi baru, entrepreneurship adalah kemampuan untuk mengorganisasikan pemikiran-pemikiran, sesederhana apapun, menjadi sesuatu yang memberi dampak bagi kemajuan. Entrepreneurship adalah kemampuan yang menjadi bagian dari perilaku seluruh anggota organisasi. Dalam organisasi yang entrepreneurial terdapat kesempatan untuk mengembangkan entrepreneurship dalam berbagai lapisan, seluruh anggota organisasi berkesempatan untuk berkontribusi pada kemajuan organisasi dalam bentuk entrepreneurship kolektif.

Berkaitan dengan entrepreneurship kolektif dan kemampuan bekerja dalam tim, saya banyak mengambil peran. Seringkali saya memberi inspirasi bagi rekan kerja dalam tim, sehingga tim kami menunjukkan performance yang baik.

 

Untuk mengukur seberapa entrepreneurship saya, berdasarkan dua sumber bacaan yang diberikan, saya harus menjawab beberapa pertanyaan.

 

― Menegaskan sasaran ―

Where do i want to go?

 

Saya masih memiliki cita-cita yang cukup kuat mempengaruhi jalan pemikiran saya, namun saya menyadari bahwa cita-cita itu belum terintegrasi dengan bisnis yang saya jalani atau profesi yang saya tekuni. Personal goals saya belum menyatu dengan cita-cita organisasi, apakah karena cita-cita organisasi yang tidak cukup jelas?

Dalam pemikiran lama, sebuah lembaga pemerintah tidaklah mungkin mengalami kebangkrutan. Kenyataannya, lembaga pemerintah harus tetap mengikuti perkembangan masyarakat. Sebuah lembaga pemerintah tidak selalu dapat dijamin sustainability-nya, sehingga saya harus berkontribusi mewujudkan suatu lembaga pemerintah yang mampu mengikuti perubahan dan perkembangan.

Distribusi tanggung jawab dan wewenang dalam organisasi pemerintah sebenarnya sudah jelas karena telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Tugas entrepreneur disini adalah menjamin distribusi tangung jawab dan wewenang itu terlaksana dengan baik, sehingga seorang pimpinan unit kerja harus mampu memberikan kepercayaan kepada stafnya, bahkan staf baru sekalipun. Itulah bagian dari tuntutan resiko dalam organisasi.

Keberanian mengambil resiko adalah sesuatu hal yang luar biasa, akan tetapi kemampuan menempuh resiko juga harus diimbangi dengan kemampuan menentukan strategi. Saya lebih cenderung memikirkan strategi apa yang harus dilakukan ketimbang resiko yang harus saya ambil.

 

― Mengatur strategi ―

How will i get there?

 

Saya tidak menyukai kejutan, sehingga setiap kali merencanakan sesuatu saya selalu diganggu oleh pikiran-pikiran apa yang akan terjadi ke depan. Dalam menentukan langkah, saya tidak selalu mampu mengambil kesempatan pertama, karena harus mempertimbangankan langkah ke depan. Apakah ini prinsip kehati-hatian, pun tidak begitu jelas karena seringkali strategi yang saya tentukan tidak memenuhi tuntutan perkembangan yang terjadi.

Seringkali muncul dalam benak saya, haruskah sebuah lembaga pemerintah terus tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya sebuah enterprise? Bila ya, tentu kita harus menentukan strategi yang tepat agar sebagai sebuah enterprise, lembaga pmerintah pun harus mampu tumbuh dan berkembang mengikuti permintaan masyarakat konsumennya.

Bila ternyata strategi yang kita tentukan itu mampu menumbuh-kembangkan organisasi, strategi itu juga harus mampu menjamin keberlangsungan organisasi, dan tetap sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan organisasi. Bagi saya,

 

 

― Menjalankan strategi ―

Mampukah saya?

 

Saya seringkali meragukan kemampuan saya sendiri dalam mengeksekusi suatu strategi, apalagi jika strategi itu bukan murni strategi yang saya tentukan. Kalaupun strategi itu adalah strategi yang saya tetapkan, saya selalu merasa membutuhkan dukungan orang lain dalam menjalankan strategi tersebut. Ketika diserahi tanggung jawab untuk menjalankan strategi, saya selalu memperhitungkan seberapa besar sumberdaya yang saya miliki untuk menjalankan strategi tersebut. Saya selalu meminta komitmen orang-orang di sekeliling saya (termasuk superior saya) yang akan terlibat dalam proses mengeksekusi strategi tersebut. Saya pun akan meminta tambahan sumberdaya/staf untuk mengeksekusi strategi tersebut.

Bila segala sumberdaya saya rasakan cukup, maka saya akan memiliki keyakinan akan mampu menjalankan strategi untuk mencapai tujuan organisasi tanpa keraguan. Sebaliknya, bila suberdaya yang dperlukan saya rasakan kurang, maka kepercayaan diri saya untuk mengeksekusi strategi yang telah ditentukan akan berkurang.

Seberapa kuat organisasi tempat saya bekerja? Pertanyaan ini agaknya agak sulit untuk dijawab, karena selama beberapa waktu belakangan ini saya merasa tidak mampu mengukur kekuatan organisasi saya. Kekuatan-kekuatan itu tidak dapat ditentukan oleh satu atau beberapa faktor secara terpisah, melainkan terintegrasi dalam sistem yang solid, saling percaya dan menjunjung tinggi komitmen. Kekuatan hard infrastructure yang dimiliki oleh organisasi saya cukup besar untuk menjalankan strategi bisnis, akan tetapi hal ini kurang ditunjang oleh kapabilitas sumberdaya manusia secara kolektif. Saya menilai organisasi tempat saya bekerja tidak memiliki kekuatan dalam hal “bekerja dalam tim”. Saya menilai secara individual, sumberdaya manusia yang dimiliki oleh organisasi saya cukup kuat. Namun ketika kita harus mengukurnya dalam konteks team work, saya melihat banyak kelemahan yang ditunjukkan.

Saya berkeinginan bahwa saya harus mampu memberdayakan keunggulan-keunggulan individu tersebut dan mentransformasikannya menjadi keunggulan tim.

501. Pengalaman Hidup dalam Kelompok

Posted in 1 on March 1, 2009 by ahmadsobandi

Salah satu kehidupan dalam kelompok yang saya anggap berkesan adalah ketika bersama-sama teman sepermainan membentuk klub sepak bola di lingkungan kompleks perumahan tempat kami tinggal, salah satu perumahan karyawan BUMN.

Awalnya secara insidental kami bermain sepakbola bersama pada lahan kosong di kompleks perumahan, saat itu rata-rata kami masih duduk di kelas 1 SMP. Lama-kelamaan kami secara rutin bermain sepak bola tiga hari dalam seminggu. Sebenarnya kegemaran kami beragam, tetapi sepak bola adalah salah satu yang mampu mempersatukan kami. Seringkali pada waktu libur kami bertandang ke kampung tetangga untuk bertanding.

Setelah beberapa bulan kami bermain bersama, muncul gagasan untuk membentuk klub sepak bola. Dalam satu pertemuan sehabis bermain sepak bola, akhirnya kami sepakat untuk membentuk klub. Secara aklamasi kami memilih pengurus yang terdiri atas ketua, sekretaris dan bendahara. Ketua kami pilih salah seorang dari kami yang usianya paling tua. Semua teman yang selalu bermain bersama, saat bergabung sebagai anggota.

Beberapa bulan kemudian, kami mulai mengumpulkan iuran untuk membeli seragam dan peralatan latihan.

Kegiatan-kegiatan yang kami lakukan sebatas bermain bersama, atau melakukan lawatan pertandingan persahabatan dengan teman-teman di kompleks perumahan lain, atau dengan kampung tetangga, hingga pada suatu saat ada pertandingan sepakbola anak-anak antar kompleks perumahan karyawan. Mulai saat itu, klub membutuhkan orang dewasa untuk membimbing, melatih dan mengembangkan organisasi. Atas kesepakatan anggota, klub menunjuk salah seorang menjadi pelatih kami secara sukarela.

Setelah dua tahun, klub mulai menyusun aturan-aturan yang menentukan beberapa hal, diantaranya:

  1. Perekrutan anggota baru, keanggotaan terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung, boleh dari luar kompleks perumahan,
  2. Kehadiran dalam latihan, setiap anggota wajib berlatih minimal 2 kali dalam seminggu,
  3. Pembagian tugas keorganisasian, memilih pengurus baru setiap enam bulan,
  4. Anggota klub boleh bertanding untuk memperkuat klub lain pada pertandingan-pertandingan di luar kompetisi antar-klub.
  5. Untuk mengikuti pertandingan-pertandingan kompetisi antar-klub, klub akan menunjuk manajer secara terpisah dari kepengurusan.

 

Klub mulai matang setelah mendapat bantuan pembinaan, baik teknis maupun biaya, dari perusahaan BUMN tempat orang tua kami bekerja. Beberapa pemain anggota klub, menjadi pemain inti klub sepak bola junior di perusahaan BUMN tempat orang tua kami bekerja.

Beberapa permasalahan mulai muncul ketika beberapa diantara kami bergabung dengan tim sepak bola junior PSSI kabupaten, dan sebagian diantara kami beranjak dewasa. Kegiatan klub mulai tidak beraturan, terutama pada waktu-waktu latihan dan pertandingan. Intervensi pembina dan manajer (orang dewasa yang kami tunjuk) telah membuat anggota menjadi tidak fokus dalam membela klub. Kegiatan klub praktis hanya diikuti oleh anggota-anggota junior klub.

Berdasarkan pertimbangan pembina, akhirnya klub sepakat bahwa anggota klub yang lebih banyak bermain di luar klub tetap menjadi anggota, namun tidak wajib untuk memperkuat klub dalam pertandingan-pertandingan kompetisi antar-klub. Klub akan fokus pada anggota-anggota hasil perekrutan baru, kemudian mempersiapkan mereka menghadapi pertandingan dalam kompetisi antar-klub.

Setelah kesepakatan itu, klub hanya menjadi ajang untuk mematangkan pemula untuk dapat memasuki klub yang lebih besar. Klub menjadi semacam ’sekolah sepak bola’ bagi pemula yang ingin mengembangkan bakat dan kemampuan bermain sepak bola.

 

Tahap tersulit dalam perkembangan kelompok adalah tahap performing.

Pada tahap ini, terdapat saling ketergantungan yang sangat tinggi antara satu anggota dengan anggota lainnya untuk mencapai tujuan kelompok. Anggota dituntut untuk saling percaya atas apa yang dilakukan oleh masing-masing anggota. Setiap anggota memiliki tanggung jawab untuk menegakkan identitas kelompok.

Pada klub sepak bola yang kami bentuk, klub tidak berhasil mencapai tahap performing ini, karena timbul perasaan iri dan saling curiga diantara anggota klub dalam menyikapi ‘larinya’ anggota klub ke klub lain. Mayoritas anggota klub tidak mampu menerima dan menempatkan anggota klub yang beraktivitas di luar klub, menjadi bagian dari mereka. Anggota yang beraktivitas di luar klub dianggap tidak memiliki loyalitas terhadap klub, dan dianggap tidak memiliki moral obligation terhadap perkembangan dan kemajuan klub.

Oleh karena terdapat konflik seperti ini, klub tidak memiliki energi untuk mempersatukan seluruh anggota menjadi satu kesatuan yang menyeluruh. Hal ini tidak terlepas dari kepemimpinan klub, yang meskipun dilakukan secara bergilir, tetap memerlukan figur pemimpin yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan dan mengarahkan anggota klub untuk mencapai keinginan bersama.

 

Kesulitan dalam meningkatkan efektivitas kelompok

  1. Sulitnya membangun ‘mutual interdependency’ antar anggota kelompok. Saling ketergantungan antar anggota kelompok sangat penting untuk membangun kerjasama dalam bekerja. Bila saling ketergantungan ini tidak dapat berjalan dengan semestinya, maka kerjasama dalam kelompok tidak akan terwujud
  2. Membangun saling percaya untuk melakukan kegiatan independen untuk kepentingan kelompok. Umumnya antar anggota kelompok muncul kecurigaan-kecurigaan ketika anggota kelompok melakukan aktivitas-aktivitas di luar kelompok, meskipun untuk mendukung tujuan kelompok.
  3. Anggota kelompok tidak dapat segera menyesuaikan diri dengan perubahan peran dan tanggung jawab yang baru.
  4. Loyalitas dan tanggung jawab moral untuk mencapai tujuan kelompok sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara beban tugas untuk kelompok dan beban tugas pengembangan pribadi. Anggota kelompok tidak dapat sepenuhnya ’secara sukarela’ memberikan segenap kemampuannya untuk tugas-tugasnya dalam kelompok, harus diimbangi dengan terpenuhinya kepentingan-kepentingan pribadi anggota kelompok tersebut. Misalnya, ketika bertanding memperkuat klub, hal itu juga dlakukan untuk memenuhi keinginan/ambisi untuk bertanding di level yang lebih tinggi.

     

Perbaikan Jawaban UTS Etika Profesi

Posted in 1 on January 23, 2009 by ahmadsobandi

Jawaban no. [1]

Proses-proses biologi adalah evolutif.

Pernyataan ini didukung oleh fakta-fakta yang membangun teori evolusi melalui seleksi alam yang didasari oleh tiga hal, yakni: (1) variasi didalam objek, (2) variasi ini menyebabkan keberagaman fitness, yakni kemampuan reproduksi dan regulasi; serta (3) karakteristik-karakteristik ini diwariskan kepada keturunan selanjutnya. Proses seleksi alam yang menyebabkan suatu populasi organisme berevolusi melalui siklus hidupnya, akan terjadi bila organisme memiliki perbedaan dalam hal viability dan fertibility.

Proses adaptasi memungkinkan mahluk hidup untuk mengembangkan strategi mempertahankan keberadaannya. Strategi-strategi ini bersifat unik untuk setiap spesies, diantaranya melalui kemampuan reproduksi dan regulasi, atau fitness.

Para ilmuwan, melalui fakta-fakta yang diperoleh secara ilmiah memberikan pernyataan yang mengarah pada satu kesimpulan bahwa proses penciptaan makhluk hidup terjadi secara berangsur-angsur melalui kemampuan beradaptasi. Proses adaptasi yang berlangsung lama memberikan perubahan-perubahan karakteristik mahluk hidup. Perubahan karakteristik ini kemudian diwariskan kepada keturunannya. Melalui kemampuannya beradaptasi inilah maka terjadilah keanekaragaman mahluk hidup.

Keanekaragaman mahluk hidup yang diyakini sebagai produk evolusi, mengalami perkembangan terus menerus baik fenotifik maupun genotifik menuju kesempurnaan dari sisi fisiologi dalam merespons kondisi lingkungan.

 

Prisnsip-prinsip dalam filosofi berkenaan dengan pernyataan bahwa “proses-proses biologi adalah evolutif” yang mendasari etika profesi.

Teori evolusi melalui seleksi alam merupakan sentral dalam ilmu biology, bahkan dalam area-area yang mengungkap pertanyaan-pertanyaan yang nonevolusioner, seperti biologi molekuler dan ekologi. Hal ini ditegaskan oleh Dobzansky, “Nothing in biology makes sense except in the light of evolution.”

Keberagaman Fitness yang diwariskan adalah unsur utama suatu populasi berevolusi melalui seleksi alam. Prinsip dasar ini telah memberikan inspirasi kepada ilmuwan biologi (sebagai sebuah profesi) dalam pengembangan keilmuan.

Pemikiran Darwin dalam hipotesis tree of life yang menjelaskan mekanisme evolusi menegaskan bahwa adaptasi adalah kekuatan dari seleksi alam. Oleh karena itu adaptationism sebagai bentuk klaim mengenai alam adalah sebuah tesis mengenai kekuatan seleksi alam. Keanekaragaman mahluk hidup menuntut perkembangan ilmu biologi, sehingga muncul cabang biologi lainnya yaitu sistematika untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan spesies kedalam taxa yang lebih tinggi.

Sociobiology yang merupakan perluasan dari teori evolusi berupaya mengungkapkan perkembangan sosial, psikologis, dan perilaku mahluk hidup. Sosiobiologi inilah yang kemudian melahirkan konsep etika dalam ilmu biologi.

 

Jawaban no. [2]

Kritik terhadap jawaban yang diberikan oleh konsorsium pengusaha kelapa sawit.

Pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh pihak LSM biru sebenarnya adalah kekhawatiran yang etis dan berdasarkan fakta yang telah ada/terjadi pada pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di daerah lain. Pernyataan-pernyataan itu merupakan dampak negatif yang dapat timbul pada pembukaan lahan perkebunan. Seharusnya konsorsium pengusaha kelapa sawit dapat menjawab kekhawatiran itu dengan mengemukakan sisi dampak-dampak positif dari pembukaan lahan perkebunan. Akan tetapi sebaliknya, konsorsium pengusaha malah membuat pernyataan yang tidak etis, yaitu mengedepankan kecurigaan bahwa protes itu ditunggangi oleh aliansi LSM luar negeri yang berafiliasi dengan pengusaha minyak kedelai. Memang ada kenyataan bahwa pengusaha minyak kedelai bersaing dengan pengusaha minyak sawit, tetapi menunjuk pihak lain sebagai penunggang protes adalah upaya untuk mengalihkan substansi permasalahan semata. Dengan demikian, jawaban yang diberikan oleh konsorsium pengusaha kelapa sawit terhadap pernyataan protes pihak LSM Biru tidak relevan, tidak etis, dan tidak profesional.

 

Usul yang dikemukakan untuk menjawab pernyataan kekhawatiran pihak LSM Biru.

  1. Untuk menjawab pernyataan (1) kekhawatiran akan ancaman kepunahan spesies, dan (2) isu keanekaragaman hayati, konsorsium pengusaha dapat mengemukakan bahwa pihaknya akan melakukan pembukaan lahan secara selektif sehingga mampu mengurangi resiko ancaman kepunahan spesies. Untuk ini, pengusaha harus membuat rencana tindakan berupa upaya melindungi spesies dari ancaman kepunahan akibat pembukaan lahan perkebunan. Misalnya dengan membuat beberapa bagian dari area perkebunan sebagai lahan konservasi. Pengusaha juga dapat menerapkan konsep perkebunan berkelanjutan (sustainable agriculture) dalam membuka lahan perkebunan agar mampu menunjang kelestarian spesies dari ancaman kepunahan dan mempertahankan keanekaragaman hayati.
  2. Pernyataan kekhawatiran pihak LSM Biru bahwa pembukaan lahan perkebunan tidak berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat, dapat terjadi bila pengusaha menerapkan sistem lama warisan feodal dan kolonial, yakni pemilik tanah sebagai juragan dan pekerja sebagai kuli semata. Kekhawatiran ini dapat dibantah bila pengusaha dapat menerapkan pola “plasma dan inti” secara intensif, adil dan konsisten. Dalam konsep plasma dan inti ini pengusaha dapat mengembangkan kemitraan sejajar dengan pekerja/penggarap lahan

    Oleh karena itu pengusaha seharusnya dapat memberikan jawaban bahwa pola pengelolaan perkebunan yang akan diterapkan mampu menjamin kesejahteraan petani perkebunan dan keluarganya, sehingga akhirnya dapat menggerakkan dan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

  3. Pernyataan kekhawatiran bahwa pembukaan lahan perkebunan dapat menimbulkan konflik horisontal dapat dihindari bila pengusaha mampu mengakomodir keinginan dan harapan masyarakat setempat, serta memperhatikan kepemilikan tanah bagi lahan perkebunan. Pengusaha dapat mengemukakan program pembinaan dan perlakuan yang memberikan rasa keadilan terhadap seluruh petani plasma. Salah satunya misalnya melalui perbaikan infrastruktur (jalan, irigasi, sarana ibadah, dan lain-lain) di sekitar area lahan perkebunan.
  4. Untuk menjawab pernyataan kekhawatiran mengenai terancamnya eksistensi budaya setempat, pengusaha harus mampu meyakinkan masyarakat setempat bahwa pihaknya akan tetap menghormati, menjaga dan memelihara eksistensi budaya setempat sebagai bentuk tanggung jawab sosial korporasi (corporate social responsibility). Pengusaha dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan terpeliharanya eksistensi budaya setempat, misalnya dengan mendirikan lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat setempat.

Untuk melaksanakan semua ini, pengusaha perlu mensponsori suatu kajian ilmiah dengan melibatkan pakar-pakar dari berbagai disiplin ilmu sehingga keterkaitan antar berbagai faktor dan prinsip dapat terlihat jelas. Dengan memperhatikan keterkaitan ini, baik pengusaha maupun masyarakat dapat menilai dampak positif dan negatif pembukaan dan pengembangan lahan untuk perkebunan.

Dari hasil kajian ini, pengusaha dapat menyusun program dan rencana tindakan yang diharapkan mampu mengurangi dampak negatif pembukaan lahan untuk perkebunan.

Yokoso! Japan

Posted in Journey on November 11, 2008 by ahmadsobandi

Yokoso! Japan,”  sebaris perempuan muda berseragam anggun menyapa, seraya membungkukkan badan sesaat kami  keluar dari garbarata yang menghubungkan pesawat terbang yang saya tumpangi dengan terminal kedatangan di Kansai International Airport, Osaka.  Di ujung barisan, seorang perempuan memberikan dua lembar kertas, sambil mengucapkan beberapa kalimat Nihongo yang tidak dapat saya tangkap artinya. Dengan tidak mempedulikan isinya, kertas itu segera saya lipat dan masukkan kedalam saku, karena saya harus segera ke stasiun kereta untuk mengejar kereta terakhir ke Kanazawa. Pesawat ini telah mengantarkan kami dari Denpasar dalam perjalanan hampir tujuh jam ke negeri sakura ini, setelah beberapa kali mengalami penundaan. Menurut jadwal, seharusnya pesawat tiba di Osaka pukul 08.30 JST (waktu Jepang), namun saya melihat  saat itu sudah pukul 22.30 JST. Nyaris tengah malam!

 

“Selamat datang di Jepang, anda diharuskan segera melapor ke city hall  untuk mendapatkan Alien Card Registration. Sampai jumpa” seru seorang immigration officer  seraya menyerahkan kembali paspor saya. Sungguh unik, ada beberapa prosedur yang harus dilalui ketika melewati pemeriksaan immigrasi, tetapi semuanya berjalan sangat cepat. Pemotretan wajah dan pemindaian sidik jari merupakan hal yang baru diterapkan di gerbang pemeriksaan imigrasi, jelas bertujuan untuk melindungi Jepang dari serangan teroris. “Arigatou gozaimasu!” saya memberanikan diri berucap Nihongo, petugas itu membalas “domo arigatou gozaimashita” sambil membungkukkan badannya. Ucapan terima kasih itulah kalimat pertama yang saya lontarkan dalam bahasa Jepang ketika menginjakkan kaki di tanah saudara tua.

 

Lepas dari inspeksi keimigrasian, saya bergegas menuju ke JR Airport Shuttle Service Station, sepanjang koridor  saya mencoba menebak-nebak arah menuju ke stasiun. Semua petunjuk sangat jelas ditulis dalam kanji dan bahasa Inggris serta simbol. Tidak ada sedikitpun alasan untuk tersesat!

 

Limited Express Haruka terakhir berangkat pukul 22.16, anda sudah terlambat, demo, even if you could get the last Haruka anda tetap harus menginap di hotel ketika transit di Shinosaka. Sudah tidak ada lagi Limited Express Thunderbird yang menuju Kanazawa!” seorang petugas pelayanan JR Shuttle Service menjelaskan ketika saya sampai di ticket office JR Shuttle Service. Duh! ini di luar rencana, meskipun saya sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Sejak dari Bandung, memang saya membekali diri dengan lembaran-lembaran jadwal, rute, dan beberapa informasi mengenai perjalanan kereta dari Kansai Airport menuju Kanazawa City, kota tujuan perjalanan ini. Saya juga menyempatkan diri melakukan print out beberapa kanji mengenai titik-titik penting yang akan dilewati. Tetapi saya tidak menyiapkan antisipasi atas kejadian ini, sehingga tidak tergambar sedikitpun tindakan yang harus saya lakukan. Perasaan galau, cemas, dan entah perasaan apalagi yang berkecamuk di dalam pikiran, membuat saya termangu. Saya menerawang kembali perjalanan sejak meninggalkan Bandung hingga tiba di tempat ini.

 

Jum’at 01 Pebruari 2008, hari ini adalah keberangkatan saya ke luar negeri untuk pertama kalinya. Sebuah pesawat  dari satu maskapai penerbangan akan membawa saya melalui rute Jakarta-Denpasar-Osaka berangkat pukul 20.55 WIB. Saya meninggalkan kota Bandung diiringi guyuran hujan deras menuju Sukabumi, menjemput anak dan istri yang akan mengantar ke Bandara Soekarno Hatta. Masih diguyur hujan deras, pukul 14.30 kami sekeluarga berangkat dari Sukabumi menuju bandara. Tiba di ujung jalan tol Jagorawi, kendaraan disergap macet yang luar biasa, dan inilah awal dari penderitaan ini. Kendaraan tidak mampu melaju, tak terhitung berapa kali berhenti total, hingga pukul 18.00 kami masih berada di sekitar Cawang. Dari pantauan siaran radio kami mendapat kabar bahwa bandara tergenang banjir sempat ditutup beberapa jam yang menyebabkan beberapa pembatalan penerbangan dan pengalihan kedatangan. Saya beberapa kali menghubungi call center maskapai penerbangan, mereka menyatakan pesawat masih on schedule, dan menyarankan agar saya segera sampai di bandara. Satu hal yang mustahil dapat dicapai.

 

Ketika jam keberangkatan pesawat sudah lewat, saya hubungi kembali call center maskapai untuk menyatakan bahwa saya tidak dapat mencapai bandara hingga batas waktu sesuai jadwal. Petugas menyampaikan, “silakan Bapak datang saja ke bandara, segala sesuatunya kita selesaikan di kantor kami.” Itulah pesan terakhir dari call center maskapai, karena selanjutnya call center tidak dapat dihubungi lagi.  Sejak itulah muncul rasa cemas dan galau, mungkinkah perjalanan saya lanjutkan, ataukah harus batal. Sementara itu, kendaraan yang kami tumpangi tidak dapat melaju, bahkan untuk memutar balik arah pun tidak bisa, namun kami memutuskan untuk terus bergerak menuju bandara.

 

Pukul 00.30 WIB  kami tiba di pintu tol Sedyatmo, kendaraan tidak dapat meneruskan perjalanan, jalan tol ditutup karena tidak dapat dilalui kendaraan. Dua jam kemudian ada bis angkutan khusus bandara yang bersedia menerobos genangan air menuju bandara. Setelah berembug dengan keluarga, akhirnya saya ditemani istri menumpang bis untuk melanjutkan perjalanan, sementara anak saya dan anggota keluarga yang lain berbalik arah kembali pulang. Ketika saya pamit, anak saya yang masih berusia dua setengah tahun bertanya, “ayah mau kemana? Ayah jangan pergi, kan masih hujan!” trenyuh hati saya mendengarnya.

 

Kami tiba di terminal 2 bandara Soekarno-Hatta pukul 11.30 keesokan harinya, dan segera menghubungi kantor perwakilan maskapai penerbangan. Syukurlah pihak maskapai mengeluarkan kebijakan yang mengijinkan saya menumpang keberangkatan pesawat berikutnya. Saya bersama istri tercinta menunggu saat keberangkatan sesuai jadwal. Setelah melakukan check in saya pihak maskapai memberitahukan penundaan keberangkatan, sehingga pesawat baru berangkat pukul 00.30 WIB dan tiba bandara Ngurah Rai Denpasar pukul  03.15 WITA.

 

Karena kesulitan teknis, penerbangan tidak dapat segera dilanjutkan menuju osaka, akan tetapi ditunda hingga siang. Sebagai kompensasi pihak maskapai memberikan pelayanan akomodasi di salah satu hotel di Kuta untuk seluruh penumpang yang sebagian besar adalah wisatawan asal Jepang. Meskipun sedikit kesal, saya merasa terhibur juga karena inilah kali pertama saya menginap di Pulau Bali. Pagi hari sebelum dijemput bus menuju bandara, saya sempatkan untuk berjalan-jalan di pantai Kuta. Setelah menunggu cukup lama, pada pukul 15.00 pesawat diberangkatkan menuju Osaka.

 

“Are you oke? Is there anything what can i do for you?” tiba-tiba petugas pelayanan di ticket office JR Airport Shuttle Service membuyarkan kenangan yang baru saja saya alami. Setengah berseru saya berkata, “oh, saya tidak tahu mesti bagaimana.” Kembali dia bertanya, “adakah yang menjemput Anda? Adakah perusahaan perjalanan yang menyertai perjalanan Anda?” Saya hanya menggelengkan kepala. “Anda dapat pergi ke hotel di sekitar bandara ini, atau ke hotel di Osaka dengan menumpang Shuttle Bus jika anda mau.” Petugas itu memberi saran. Kembali saya hanya bisa menggelengkan kepala. “it is better for you to go back to your airline office, perhaps there is some information about  your delayed travel.” Nah, kalimat terakhir itu tiba-tiba mengingatkan saya pada dua lembar kertas yang diberikan oleh perempuan-perempuan cantik berseragam ketika saya keluar dari pesawat. “Saya hanya mendapatkan ini ketika tiba di sini.” Kata saya sambil memperlihatkan kertas itu. “Let me see, oh, this is the good news for you. Please go back to the place where you have got it.” Saya melihat matanya berbinar ketika ia membaca kertas dengan tulisan kanji di dalamnya.

 

Masih dengan perasaan tak menentu, saya mengikuti saran beliau untuk kembali ke tempat kedatangan awal. Sambil melihat-lihat isi kertas itu, saya berjalan menuju ke terminal kedatangan. Di lembaran pertama saya dapat melihat bahwa ternyata itu adalah “certificate of delayed arrival” yang diterbitkan oleh afiliasi perusahaan maskapai penerbangan saya di Kansai International Airport, ditulis dalam dua bahasa, Jepang dan Inggris. Sedangkan pada lembaran kedua, saya sama sekali tidak dapat membacanya karena semuanya ditulis dengan kanji. Sebelum saya tiba di tempat kedatangan semula, di jejeran airline offices, saya melihat kumpulan perempuan-perempuan berseragam yang sama saya jumpai ketika keluar dari pesawat. Saya segera menghampiri mereka, sambil memperlihatkan kertas yang saya pegang saya sampaikan, “saya baru saja tiba di sini, dan berniat untuk melanjutkan perjalanan ke Kanazawa City, namun sudah tidak ada lagi keberangkatan kereta. Saya disarankan untuk datang ke sini.”

 

Sambil membungkukkan badan, perempuan-perempuan itu berseru, “hai, please come!” Salah seorang dari mereka mempertemukan saya dengan seorang pria, tampaknya adalah pemimpin dari kumpulan perempuan-perempuan tadi. Dengan sangat sopan dan ramah pria tadi berkata, “Saya manager on duty hari ini, surat ini adalah permohonan maaf dari maskapai penerbangan atas keterlambatan kedatangan Anda. Surat ini juga sekaligus pemberitahuan bahwa bila anda memerlukan bantuan untuk melanjutkan perjalanan, dengan senang hati kami akan membantu.” Dengan gembira saya berkata, “baiklah, sebenarnya saya ingin segera melanjutkan perjalanan ke Kanazawa City, tapi sudah tidak ada lagi kereta yang berangkat ke sana saat ini.” Pria tadi menimpali, “apakah Anda harus berangkat saat ini juga? Jika ya, kami dapat menyediakan taxi untuk mengantar Anda. Anda dapat tiba di Kanazawa City besok pagi.” Saya berpikir kalaupun saya sampai di Kanazawa City pagi-pagi sekali saya tidak tahu mesti bagaimana, karena saya kira kantor universitas tempat tujuan saya pasti masih tutup. Dengan sedikit keraguan saya katakan, “oh, tidak. Saya masih punya banyak waktu.”  

 

“Baiklah kalau begitu, kami akan sediakan penginapan untuk Anda. Bolehkah saya mencatat nama Anda?” Pria tadi meminta saya memperlihatkan boarding pass yang segera saya berikan. “Apakah anda punya nomor telepon yang dapat saya hubungi?” kembali pria tadi bertanya. Saya segera menjawab tidak, karena international roaming telepon seluler saya tidak aktif. Sambil menuliskan nomor teleponnya pria itu kembali berkata, “this is my phone number, please don’t be hesitate to call me anytime you need help! Salah seorang staf saya akan mengantar anda ke penginapan.” Kembali saya berucap, “hai, arigatou gozaimasu!” Secara serempak pria itu bersama para stafnya berucap, “domo arigatou gozaimashita” sambil membungkukkan badannya. Selepas itu saya diantar ke sebuah hotel megah, wow, setelah check in, saya segera tahu bahwa itu adalah sebuah five stars hotel di Kansai International Airport. Saya sempat risau dan bertanya-tanya dalam hati, haruskah saya membayar hotel ini. Tapi untunglah, guest officer menyampaikan bahwa maskapai penerbangan sayalah yang akan membayar biaya menginap di hotel ini.

 

Senin, 04 Pebruari 2008 tepat pukul 09.00 JST sesuai permintaan saya kepada guest officer hotel, saya check out karena berniat segera melanjutkan perjalanan ke Kanazawa City. Di ruang loby hotel, telah menunggu seorang pria berpakaian seragam sama dengan pria yang saya temui tadi malam di bandara. Ketika saya check out pria itu segera menghampiri saya dan berseru, “ohayou gozaimasu! Saya akan mengantar anda ke stasiun kereta. Spontan saya membalas, “oh, good morning! Thank you.” Sampai di ticket office JR Airport Shuttle Service pria itu berkata, “silakan membeli tiket, if you like we can reimburse your payment.” Dengan sedikit mengernyitkan kening saya katakan, “oh, tidak perlu. This is my expenses that I already planned.” Selesai memesan tiket perjalan, kami segera beranjak ke gerbang JR Airport Shuttle service. Sebelum saya masuk, pria itu berkata sambil membungkukkan badannya, “douzo, have a nice trip. We hope you enjoy your travel to Kanazawa City.” Spontan saya berseru, “hai, arigatou gozaimasu!”  dan pria itu membalas, “domo arigatou gozaimashita!” Saya segera masuk ke kereta Limited Express Haruka yang akan membawa saya ke Shinosaka untuk transit dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan Limited Express Thunderbird ke Kanazawa City.

Gamelan Sekar Kembar di Radio WNYC

Posted in Relax on April 25, 2008 by ahmadsobandi

Pagi ini (00:44) saya sangat menikmati sekali alunan “Gamelan Sekar Kembar – Serenade for Betty Friedmann” yang dipancarkan dari WNYC2 Radio ( http://www.wnyc.org/wnyc2 )  melalui iTunes. Alunan gamelan (yang mungkin campuran antara Sunda-Bali) sungguh membuat saya terharu sekaligus bangga mengingat gamelan tersebut disejajarkan dengan musik klasik karya-karya musisi dunia, seperti bethoven, schubert, dll.

Ditengah hingar-bingar bajak-membajak budaya dan klaim-mengklaim paten musik, ternyata musik Indonesia masih dihormati di belahan bumi lain.

Siaran ini diselenggarakan oleh News School Master Degree Programs in Teaching English di New York, dengan dukungan dari masyarakat New York. Bagi kawan-kawan yang ingin menikmati alunan musik klasik dengan format kontemporer, radio ini bisa menjadi salah satu alternatif. Pancang iTunes, points to WNYC2. WNYC2 menyajikan Kualitas HD Radio, dengan CD-Quality Audio Pragramming.