Archive for November, 2008

Yokoso! Japan

Posted in Journey on November 11, 2008 by ahmadsobandi

Yokoso! Japan,”  sebaris perempuan muda berseragam anggun menyapa, seraya membungkukkan badan sesaat kami  keluar dari garbarata yang menghubungkan pesawat terbang yang saya tumpangi dengan terminal kedatangan di Kansai International Airport, Osaka.  Di ujung barisan, seorang perempuan memberikan dua lembar kertas, sambil mengucapkan beberapa kalimat Nihongo yang tidak dapat saya tangkap artinya. Dengan tidak mempedulikan isinya, kertas itu segera saya lipat dan masukkan kedalam saku, karena saya harus segera ke stasiun kereta untuk mengejar kereta terakhir ke Kanazawa. Pesawat ini telah mengantarkan kami dari Denpasar dalam perjalanan hampir tujuh jam ke negeri sakura ini, setelah beberapa kali mengalami penundaan. Menurut jadwal, seharusnya pesawat tiba di Osaka pukul 08.30 JST (waktu Jepang), namun saya melihat  saat itu sudah pukul 22.30 JST. Nyaris tengah malam!

 

“Selamat datang di Jepang, anda diharuskan segera melapor ke city hall  untuk mendapatkan Alien Card Registration. Sampai jumpa” seru seorang immigration officer  seraya menyerahkan kembali paspor saya. Sungguh unik, ada beberapa prosedur yang harus dilalui ketika melewati pemeriksaan immigrasi, tetapi semuanya berjalan sangat cepat. Pemotretan wajah dan pemindaian sidik jari merupakan hal yang baru diterapkan di gerbang pemeriksaan imigrasi, jelas bertujuan untuk melindungi Jepang dari serangan teroris. “Arigatou gozaimasu!” saya memberanikan diri berucap Nihongo, petugas itu membalas “domo arigatou gozaimashita” sambil membungkukkan badannya. Ucapan terima kasih itulah kalimat pertama yang saya lontarkan dalam bahasa Jepang ketika menginjakkan kaki di tanah saudara tua.

 

Lepas dari inspeksi keimigrasian, saya bergegas menuju ke JR Airport Shuttle Service Station, sepanjang koridor  saya mencoba menebak-nebak arah menuju ke stasiun. Semua petunjuk sangat jelas ditulis dalam kanji dan bahasa Inggris serta simbol. Tidak ada sedikitpun alasan untuk tersesat!

 

Limited Express Haruka terakhir berangkat pukul 22.16, anda sudah terlambat, demo, even if you could get the last Haruka anda tetap harus menginap di hotel ketika transit di Shinosaka. Sudah tidak ada lagi Limited Express Thunderbird yang menuju Kanazawa!” seorang petugas pelayanan JR Shuttle Service menjelaskan ketika saya sampai di ticket office JR Shuttle Service. Duh! ini di luar rencana, meskipun saya sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Sejak dari Bandung, memang saya membekali diri dengan lembaran-lembaran jadwal, rute, dan beberapa informasi mengenai perjalanan kereta dari Kansai Airport menuju Kanazawa City, kota tujuan perjalanan ini. Saya juga menyempatkan diri melakukan print out beberapa kanji mengenai titik-titik penting yang akan dilewati. Tetapi saya tidak menyiapkan antisipasi atas kejadian ini, sehingga tidak tergambar sedikitpun tindakan yang harus saya lakukan. Perasaan galau, cemas, dan entah perasaan apalagi yang berkecamuk di dalam pikiran, membuat saya termangu. Saya menerawang kembali perjalanan sejak meninggalkan Bandung hingga tiba di tempat ini.

 

Jum’at 01 Pebruari 2008, hari ini adalah keberangkatan saya ke luar negeri untuk pertama kalinya. Sebuah pesawat  dari satu maskapai penerbangan akan membawa saya melalui rute Jakarta-Denpasar-Osaka berangkat pukul 20.55 WIB. Saya meninggalkan kota Bandung diiringi guyuran hujan deras menuju Sukabumi, menjemput anak dan istri yang akan mengantar ke Bandara Soekarno Hatta. Masih diguyur hujan deras, pukul 14.30 kami sekeluarga berangkat dari Sukabumi menuju bandara. Tiba di ujung jalan tol Jagorawi, kendaraan disergap macet yang luar biasa, dan inilah awal dari penderitaan ini. Kendaraan tidak mampu melaju, tak terhitung berapa kali berhenti total, hingga pukul 18.00 kami masih berada di sekitar Cawang. Dari pantauan siaran radio kami mendapat kabar bahwa bandara tergenang banjir sempat ditutup beberapa jam yang menyebabkan beberapa pembatalan penerbangan dan pengalihan kedatangan. Saya beberapa kali menghubungi call center maskapai penerbangan, mereka menyatakan pesawat masih on schedule, dan menyarankan agar saya segera sampai di bandara. Satu hal yang mustahil dapat dicapai.

 

Ketika jam keberangkatan pesawat sudah lewat, saya hubungi kembali call center maskapai untuk menyatakan bahwa saya tidak dapat mencapai bandara hingga batas waktu sesuai jadwal. Petugas menyampaikan, “silakan Bapak datang saja ke bandara, segala sesuatunya kita selesaikan di kantor kami.” Itulah pesan terakhir dari call center maskapai, karena selanjutnya call center tidak dapat dihubungi lagi.  Sejak itulah muncul rasa cemas dan galau, mungkinkah perjalanan saya lanjutkan, ataukah harus batal. Sementara itu, kendaraan yang kami tumpangi tidak dapat melaju, bahkan untuk memutar balik arah pun tidak bisa, namun kami memutuskan untuk terus bergerak menuju bandara.

 

Pukul 00.30 WIB  kami tiba di pintu tol Sedyatmo, kendaraan tidak dapat meneruskan perjalanan, jalan tol ditutup karena tidak dapat dilalui kendaraan. Dua jam kemudian ada bis angkutan khusus bandara yang bersedia menerobos genangan air menuju bandara. Setelah berembug dengan keluarga, akhirnya saya ditemani istri menumpang bis untuk melanjutkan perjalanan, sementara anak saya dan anggota keluarga yang lain berbalik arah kembali pulang. Ketika saya pamit, anak saya yang masih berusia dua setengah tahun bertanya, “ayah mau kemana? Ayah jangan pergi, kan masih hujan!” trenyuh hati saya mendengarnya.

 

Kami tiba di terminal 2 bandara Soekarno-Hatta pukul 11.30 keesokan harinya, dan segera menghubungi kantor perwakilan maskapai penerbangan. Syukurlah pihak maskapai mengeluarkan kebijakan yang mengijinkan saya menumpang keberangkatan pesawat berikutnya. Saya bersama istri tercinta menunggu saat keberangkatan sesuai jadwal. Setelah melakukan check in saya pihak maskapai memberitahukan penundaan keberangkatan, sehingga pesawat baru berangkat pukul 00.30 WIB dan tiba bandara Ngurah Rai Denpasar pukul  03.15 WITA.

 

Karena kesulitan teknis, penerbangan tidak dapat segera dilanjutkan menuju osaka, akan tetapi ditunda hingga siang. Sebagai kompensasi pihak maskapai memberikan pelayanan akomodasi di salah satu hotel di Kuta untuk seluruh penumpang yang sebagian besar adalah wisatawan asal Jepang. Meskipun sedikit kesal, saya merasa terhibur juga karena inilah kali pertama saya menginap di Pulau Bali. Pagi hari sebelum dijemput bus menuju bandara, saya sempatkan untuk berjalan-jalan di pantai Kuta. Setelah menunggu cukup lama, pada pukul 15.00 pesawat diberangkatkan menuju Osaka.

 

“Are you oke? Is there anything what can i do for you?” tiba-tiba petugas pelayanan di ticket office JR Airport Shuttle Service membuyarkan kenangan yang baru saja saya alami. Setengah berseru saya berkata, “oh, saya tidak tahu mesti bagaimana.” Kembali dia bertanya, “adakah yang menjemput Anda? Adakah perusahaan perjalanan yang menyertai perjalanan Anda?” Saya hanya menggelengkan kepala. “Anda dapat pergi ke hotel di sekitar bandara ini, atau ke hotel di Osaka dengan menumpang Shuttle Bus jika anda mau.” Petugas itu memberi saran. Kembali saya hanya bisa menggelengkan kepala. “it is better for you to go back to your airline office, perhaps there is some information about  your delayed travel.” Nah, kalimat terakhir itu tiba-tiba mengingatkan saya pada dua lembar kertas yang diberikan oleh perempuan-perempuan cantik berseragam ketika saya keluar dari pesawat. “Saya hanya mendapatkan ini ketika tiba di sini.” Kata saya sambil memperlihatkan kertas itu. “Let me see, oh, this is the good news for you. Please go back to the place where you have got it.” Saya melihat matanya berbinar ketika ia membaca kertas dengan tulisan kanji di dalamnya.

 

Masih dengan perasaan tak menentu, saya mengikuti saran beliau untuk kembali ke tempat kedatangan awal. Sambil melihat-lihat isi kertas itu, saya berjalan menuju ke terminal kedatangan. Di lembaran pertama saya dapat melihat bahwa ternyata itu adalah “certificate of delayed arrival” yang diterbitkan oleh afiliasi perusahaan maskapai penerbangan saya di Kansai International Airport, ditulis dalam dua bahasa, Jepang dan Inggris. Sedangkan pada lembaran kedua, saya sama sekali tidak dapat membacanya karena semuanya ditulis dengan kanji. Sebelum saya tiba di tempat kedatangan semula, di jejeran airline offices, saya melihat kumpulan perempuan-perempuan berseragam yang sama saya jumpai ketika keluar dari pesawat. Saya segera menghampiri mereka, sambil memperlihatkan kertas yang saya pegang saya sampaikan, “saya baru saja tiba di sini, dan berniat untuk melanjutkan perjalanan ke Kanazawa City, namun sudah tidak ada lagi keberangkatan kereta. Saya disarankan untuk datang ke sini.”

 

Sambil membungkukkan badan, perempuan-perempuan itu berseru, “hai, please come!” Salah seorang dari mereka mempertemukan saya dengan seorang pria, tampaknya adalah pemimpin dari kumpulan perempuan-perempuan tadi. Dengan sangat sopan dan ramah pria tadi berkata, “Saya manager on duty hari ini, surat ini adalah permohonan maaf dari maskapai penerbangan atas keterlambatan kedatangan Anda. Surat ini juga sekaligus pemberitahuan bahwa bila anda memerlukan bantuan untuk melanjutkan perjalanan, dengan senang hati kami akan membantu.” Dengan gembira saya berkata, “baiklah, sebenarnya saya ingin segera melanjutkan perjalanan ke Kanazawa City, tapi sudah tidak ada lagi kereta yang berangkat ke sana saat ini.” Pria tadi menimpali, “apakah Anda harus berangkat saat ini juga? Jika ya, kami dapat menyediakan taxi untuk mengantar Anda. Anda dapat tiba di Kanazawa City besok pagi.” Saya berpikir kalaupun saya sampai di Kanazawa City pagi-pagi sekali saya tidak tahu mesti bagaimana, karena saya kira kantor universitas tempat tujuan saya pasti masih tutup. Dengan sedikit keraguan saya katakan, “oh, tidak. Saya masih punya banyak waktu.”  

 

“Baiklah kalau begitu, kami akan sediakan penginapan untuk Anda. Bolehkah saya mencatat nama Anda?” Pria tadi meminta saya memperlihatkan boarding pass yang segera saya berikan. “Apakah anda punya nomor telepon yang dapat saya hubungi?” kembali pria tadi bertanya. Saya segera menjawab tidak, karena international roaming telepon seluler saya tidak aktif. Sambil menuliskan nomor teleponnya pria itu kembali berkata, “this is my phone number, please don’t be hesitate to call me anytime you need help! Salah seorang staf saya akan mengantar anda ke penginapan.” Kembali saya berucap, “hai, arigatou gozaimasu!” Secara serempak pria itu bersama para stafnya berucap, “domo arigatou gozaimashita” sambil membungkukkan badannya. Selepas itu saya diantar ke sebuah hotel megah, wow, setelah check in, saya segera tahu bahwa itu adalah sebuah five stars hotel di Kansai International Airport. Saya sempat risau dan bertanya-tanya dalam hati, haruskah saya membayar hotel ini. Tapi untunglah, guest officer menyampaikan bahwa maskapai penerbangan sayalah yang akan membayar biaya menginap di hotel ini.

 

Senin, 04 Pebruari 2008 tepat pukul 09.00 JST sesuai permintaan saya kepada guest officer hotel, saya check out karena berniat segera melanjutkan perjalanan ke Kanazawa City. Di ruang loby hotel, telah menunggu seorang pria berpakaian seragam sama dengan pria yang saya temui tadi malam di bandara. Ketika saya check out pria itu segera menghampiri saya dan berseru, “ohayou gozaimasu! Saya akan mengantar anda ke stasiun kereta. Spontan saya membalas, “oh, good morning! Thank you.” Sampai di ticket office JR Airport Shuttle Service pria itu berkata, “silakan membeli tiket, if you like we can reimburse your payment.” Dengan sedikit mengernyitkan kening saya katakan, “oh, tidak perlu. This is my expenses that I already planned.” Selesai memesan tiket perjalan, kami segera beranjak ke gerbang JR Airport Shuttle service. Sebelum saya masuk, pria itu berkata sambil membungkukkan badannya, “douzo, have a nice trip. We hope you enjoy your travel to Kanazawa City.” Spontan saya berseru, “hai, arigatou gozaimasu!”  dan pria itu membalas, “domo arigatou gozaimashita!” Saya segera masuk ke kereta Limited Express Haruka yang akan membawa saya ke Shinosaka untuk transit dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan Limited Express Thunderbird ke Kanazawa City.