Salah satu kehidupan dalam kelompok yang saya anggap berkesan adalah ketika bersama-sama teman sepermainan membentuk klub sepak bola di lingkungan kompleks perumahan tempat kami tinggal, salah satu perumahan karyawan BUMN.
Awalnya secara insidental kami bermain sepakbola bersama pada lahan kosong di kompleks perumahan, saat itu rata-rata kami masih duduk di kelas 1 SMP. Lama-kelamaan kami secara rutin bermain sepak bola tiga hari dalam seminggu. Sebenarnya kegemaran kami beragam, tetapi sepak bola adalah salah satu yang mampu mempersatukan kami. Seringkali pada waktu libur kami bertandang ke kampung tetangga untuk bertanding.
Setelah beberapa bulan kami bermain bersama, muncul gagasan untuk membentuk klub sepak bola. Dalam satu pertemuan sehabis bermain sepak bola, akhirnya kami sepakat untuk membentuk klub. Secara aklamasi kami memilih pengurus yang terdiri atas ketua, sekretaris dan bendahara. Ketua kami pilih salah seorang dari kami yang usianya paling tua. Semua teman yang selalu bermain bersama, saat bergabung sebagai anggota.
Beberapa bulan kemudian, kami mulai mengumpulkan iuran untuk membeli seragam dan peralatan latihan.
Kegiatan-kegiatan yang kami lakukan sebatas bermain bersama, atau melakukan lawatan pertandingan persahabatan dengan teman-teman di kompleks perumahan lain, atau dengan kampung tetangga, hingga pada suatu saat ada pertandingan sepakbola anak-anak antar kompleks perumahan karyawan. Mulai saat itu, klub membutuhkan orang dewasa untuk membimbing, melatih dan mengembangkan organisasi. Atas kesepakatan anggota, klub menunjuk salah seorang menjadi pelatih kami secara sukarela.
Setelah dua tahun, klub mulai menyusun aturan-aturan yang menentukan beberapa hal, diantaranya:
-
Perekrutan anggota baru, keanggotaan terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung, boleh dari luar kompleks perumahan,
-
Kehadiran dalam latihan, setiap anggota wajib berlatih minimal 2 kali dalam seminggu,
-
Pembagian tugas keorganisasian, memilih pengurus baru setiap enam bulan,
-
Anggota klub boleh bertanding untuk memperkuat klub lain pada pertandingan-pertandingan di luar kompetisi antar-klub.
-
Untuk mengikuti pertandingan-pertandingan kompetisi antar-klub, klub akan menunjuk manajer secara terpisah dari kepengurusan.
Klub mulai matang setelah mendapat bantuan pembinaan, baik teknis maupun biaya, dari perusahaan BUMN tempat orang tua kami bekerja. Beberapa pemain anggota klub, menjadi pemain inti klub sepak bola junior di perusahaan BUMN tempat orang tua kami bekerja.
Beberapa permasalahan mulai muncul ketika beberapa diantara kami bergabung dengan tim sepak bola junior PSSI kabupaten, dan sebagian diantara kami beranjak dewasa. Kegiatan klub mulai tidak beraturan, terutama pada waktu-waktu latihan dan pertandingan. Intervensi pembina dan manajer (orang dewasa yang kami tunjuk) telah membuat anggota menjadi tidak fokus dalam membela klub. Kegiatan klub praktis hanya diikuti oleh anggota-anggota junior klub.
Berdasarkan pertimbangan pembina, akhirnya klub sepakat bahwa anggota klub yang lebih banyak bermain di luar klub tetap menjadi anggota, namun tidak wajib untuk memperkuat klub dalam pertandingan-pertandingan kompetisi antar-klub. Klub akan fokus pada anggota-anggota hasil perekrutan baru, kemudian mempersiapkan mereka menghadapi pertandingan dalam kompetisi antar-klub.
Setelah kesepakatan itu, klub hanya menjadi ajang untuk mematangkan pemula untuk dapat memasuki klub yang lebih besar. Klub menjadi semacam ’sekolah sepak bola’ bagi pemula yang ingin mengembangkan bakat dan kemampuan bermain sepak bola.
Tahap tersulit dalam perkembangan kelompok adalah tahap performing.
Pada tahap ini, terdapat saling ketergantungan yang sangat tinggi antara satu anggota dengan anggota lainnya untuk mencapai tujuan kelompok. Anggota dituntut untuk saling percaya atas apa yang dilakukan oleh masing-masing anggota. Setiap anggota memiliki tanggung jawab untuk menegakkan identitas kelompok.
Pada klub sepak bola yang kami bentuk, klub tidak berhasil mencapai tahap performing ini, karena timbul perasaan iri dan saling curiga diantara anggota klub dalam menyikapi ‘larinya’ anggota klub ke klub lain. Mayoritas anggota klub tidak mampu menerima dan menempatkan anggota klub yang beraktivitas di luar klub, menjadi bagian dari mereka. Anggota yang beraktivitas di luar klub dianggap tidak memiliki loyalitas terhadap klub, dan dianggap tidak memiliki moral obligation terhadap perkembangan dan kemajuan klub.
Oleh karena terdapat konflik seperti ini, klub tidak memiliki energi untuk mempersatukan seluruh anggota menjadi satu kesatuan yang menyeluruh. Hal ini tidak terlepas dari kepemimpinan klub, yang meskipun dilakukan secara bergilir, tetap memerlukan figur pemimpin yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan dan mengarahkan anggota klub untuk mencapai keinginan bersama.
Kesulitan dalam meningkatkan efektivitas kelompok
-
Sulitnya membangun ‘mutual interdependency’ antar anggota kelompok. Saling ketergantungan antar anggota kelompok sangat penting untuk membangun kerjasama dalam bekerja. Bila saling ketergantungan ini tidak dapat berjalan dengan semestinya, maka kerjasama dalam kelompok tidak akan terwujud
-
Membangun saling percaya untuk melakukan kegiatan independen untuk kepentingan kelompok. Umumnya antar anggota kelompok muncul kecurigaan-kecurigaan ketika anggota kelompok melakukan aktivitas-aktivitas di luar kelompok, meskipun untuk mendukung tujuan kelompok.
-
Anggota kelompok tidak dapat segera menyesuaikan diri dengan perubahan peran dan tanggung jawab yang baru.
-
Loyalitas dan tanggung jawab moral untuk mencapai tujuan kelompok sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara beban tugas untuk kelompok dan beban tugas pengembangan pribadi. Anggota kelompok tidak dapat sepenuhnya ’secara sukarela’ memberikan segenap kemampuannya untuk tugas-tugasnya dalam kelompok, harus diimbangi dengan terpenuhinya kepentingan-kepentingan pribadi anggota kelompok tersebut. Misalnya, ketika bertanding memperkuat klub, hal itu juga dlakukan untuk memenuhi keinginan/ambisi untuk bertanding di level yang lebih tinggi.