Seberapa Entrepreneurialkah Saya?

 

Terdapat beberapa perkembangan pemikiran subyektif saya mengenai entrepreneurship, yang masing-masing cukup berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dalam melangkah. Pemikiran-pemikiran itu diantaranya adalah:

  1. Entrepreneurship adalah suatu bakat alami, yang diwariskan oleh pendidikan internal dalam keluarga entrepreneur.

    Pemikiran ini sempat “mengganggu” kehidupan saya dengan memunculkan keraguan-keraguan dalam benak saya ketika menentukan keputusan untuk bekerja atau menciptakan pekerjaan. Pada tahap ini saya mengidentikkan entrepreneur dengan wirausahawan, sehingga saya merasa ragu apakah saya dapat bertahan menjadi seorang wirausahawan. Setelah mengalami kegagalan ketika mencoba beberapa bidang usaha, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi pegawai, dan berhenti berwirausaha.

  2. Entrepreneurship adalah kemampuan yang muncul dari dalam diri, ketika diri kita memiliki cita-cita, mimpi, dan menjadikan cita-cita atau mimpi itu menjadi tantangan yang harus diwujudkan.

    Pemikiran ini memunculkan anggapan dalam diri saya bahwa seorang entrepreneur itu adalah seorang yang egois, ambisius, dan cenderung menempuh berbagai cara untuk mewujudkan keinginan-keinginannya. Saya merasa bukan tipe seperti itu, sehingga saya menilai bahwa saya bukanlah seorang entrpreneur.

  3. Entrepreneurship adalah kemampuan yang diperoleh dari lingkungan, baik berupa tuntutan, tuntunan, tekanan, dan dorongan.

    Pemikiran ini memberikan dugaan kuat bahwa entrepreneur berkaitan erat dengan keberuntungan semata-mata. Pada pemikiran ini, saya cenderung menyalahkan lingkungan, mengapa tidak mampu menempa saya menujadi seorang entrepreneur?

Dalam paradigma lama, entrepreneurship cenderung identik dengan kemampuan untuk menghasilkan gagasan-gagasan besar untuk menciptakan sesuatu penemuan baru. Sementara dalam paradigma ekonomi baru, entrepreneurship adalah kemampuan untuk mengorganisasikan pemikiran-pemikiran, sesederhana apapun, menjadi sesuatu yang memberi dampak bagi kemajuan. Entrepreneurship adalah kemampuan yang menjadi bagian dari perilaku seluruh anggota organisasi. Dalam organisasi yang entrepreneurial terdapat kesempatan untuk mengembangkan entrepreneurship dalam berbagai lapisan, seluruh anggota organisasi berkesempatan untuk berkontribusi pada kemajuan organisasi dalam bentuk entrepreneurship kolektif.

Berkaitan dengan entrepreneurship kolektif dan kemampuan bekerja dalam tim, saya banyak mengambil peran. Seringkali saya memberi inspirasi bagi rekan kerja dalam tim, sehingga tim kami menunjukkan performance yang baik.

 

Untuk mengukur seberapa entrepreneurship saya, berdasarkan dua sumber bacaan yang diberikan, saya harus menjawab beberapa pertanyaan.

 

― Menegaskan sasaran ―

Where do i want to go?

 

Saya masih memiliki cita-cita yang cukup kuat mempengaruhi jalan pemikiran saya, namun saya menyadari bahwa cita-cita itu belum terintegrasi dengan bisnis yang saya jalani atau profesi yang saya tekuni. Personal goals saya belum menyatu dengan cita-cita organisasi, apakah karena cita-cita organisasi yang tidak cukup jelas?

Dalam pemikiran lama, sebuah lembaga pemerintah tidaklah mungkin mengalami kebangkrutan. Kenyataannya, lembaga pemerintah harus tetap mengikuti perkembangan masyarakat. Sebuah lembaga pemerintah tidak selalu dapat dijamin sustainability-nya, sehingga saya harus berkontribusi mewujudkan suatu lembaga pemerintah yang mampu mengikuti perubahan dan perkembangan.

Distribusi tanggung jawab dan wewenang dalam organisasi pemerintah sebenarnya sudah jelas karena telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Tugas entrepreneur disini adalah menjamin distribusi tangung jawab dan wewenang itu terlaksana dengan baik, sehingga seorang pimpinan unit kerja harus mampu memberikan kepercayaan kepada stafnya, bahkan staf baru sekalipun. Itulah bagian dari tuntutan resiko dalam organisasi.

Keberanian mengambil resiko adalah sesuatu hal yang luar biasa, akan tetapi kemampuan menempuh resiko juga harus diimbangi dengan kemampuan menentukan strategi. Saya lebih cenderung memikirkan strategi apa yang harus dilakukan ketimbang resiko yang harus saya ambil.

 

― Mengatur strategi ―

How will i get there?

 

Saya tidak menyukai kejutan, sehingga setiap kali merencanakan sesuatu saya selalu diganggu oleh pikiran-pikiran apa yang akan terjadi ke depan. Dalam menentukan langkah, saya tidak selalu mampu mengambil kesempatan pertama, karena harus mempertimbangankan langkah ke depan. Apakah ini prinsip kehati-hatian, pun tidak begitu jelas karena seringkali strategi yang saya tentukan tidak memenuhi tuntutan perkembangan yang terjadi.

Seringkali muncul dalam benak saya, haruskah sebuah lembaga pemerintah terus tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya sebuah enterprise? Bila ya, tentu kita harus menentukan strategi yang tepat agar sebagai sebuah enterprise, lembaga pmerintah pun harus mampu tumbuh dan berkembang mengikuti permintaan masyarakat konsumennya.

Bila ternyata strategi yang kita tentukan itu mampu menumbuh-kembangkan organisasi, strategi itu juga harus mampu menjamin keberlangsungan organisasi, dan tetap sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan organisasi. Bagi saya,

 

 

― Menjalankan strategi ―

Mampukah saya?

 

Saya seringkali meragukan kemampuan saya sendiri dalam mengeksekusi suatu strategi, apalagi jika strategi itu bukan murni strategi yang saya tentukan. Kalaupun strategi itu adalah strategi yang saya tetapkan, saya selalu merasa membutuhkan dukungan orang lain dalam menjalankan strategi tersebut. Ketika diserahi tanggung jawab untuk menjalankan strategi, saya selalu memperhitungkan seberapa besar sumberdaya yang saya miliki untuk menjalankan strategi tersebut. Saya selalu meminta komitmen orang-orang di sekeliling saya (termasuk superior saya) yang akan terlibat dalam proses mengeksekusi strategi tersebut. Saya pun akan meminta tambahan sumberdaya/staf untuk mengeksekusi strategi tersebut.

Bila segala sumberdaya saya rasakan cukup, maka saya akan memiliki keyakinan akan mampu menjalankan strategi untuk mencapai tujuan organisasi tanpa keraguan. Sebaliknya, bila suberdaya yang dperlukan saya rasakan kurang, maka kepercayaan diri saya untuk mengeksekusi strategi yang telah ditentukan akan berkurang.

Seberapa kuat organisasi tempat saya bekerja? Pertanyaan ini agaknya agak sulit untuk dijawab, karena selama beberapa waktu belakangan ini saya merasa tidak mampu mengukur kekuatan organisasi saya. Kekuatan-kekuatan itu tidak dapat ditentukan oleh satu atau beberapa faktor secara terpisah, melainkan terintegrasi dalam sistem yang solid, saling percaya dan menjunjung tinggi komitmen. Kekuatan hard infrastructure yang dimiliki oleh organisasi saya cukup besar untuk menjalankan strategi bisnis, akan tetapi hal ini kurang ditunjang oleh kapabilitas sumberdaya manusia secara kolektif. Saya menilai organisasi tempat saya bekerja tidak memiliki kekuatan dalam hal “bekerja dalam tim”. Saya menilai secara individual, sumberdaya manusia yang dimiliki oleh organisasi saya cukup kuat. Namun ketika kita harus mengukurnya dalam konteks team work, saya melihat banyak kelemahan yang ditunjukkan.

Saya berkeinginan bahwa saya harus mampu memberdayakan keunggulan-keunggulan individu tersebut dan mentransformasikannya menjadi keunggulan tim.

Leave a Reply