Archive for May, 2009

CSR

Posted in 1 on May 16, 2009 by ahmadsobandi

Undang-undang perseroan terbatas memuat kewajiban perusahaan untuk melakukan kegiatan CSR, persoalan ini telah semakin menarik perhatian korporasi. Pemerintah tidak memberikan panduan praktik CSR yang baik sehingga banyak korporasi yang menciptakan program CSR sebagai program amal. Perdebatan akademik dan miskonsepsi mengenai corporate social responsibility melahirkan berbagai pendapat yang menyarankan program CSR berbeda-beda.

Tujuan utama korporasi, yakni untuk mencari profit harus diimbangi dengan ketaatan terhadap peraturan hukum yang berlaku, diantaranya aturan perburuhan dan aturan kelestarian lingkungan. Selain memiliki kewajiban terhadap pemilik modal, korporasi juga harus dapat memenuhi harapan para pemangku kepentingan, yakni pemerintah, karyawan, dan masyarakat sekitar. Sustainabilitas sebuah korporasi dapat ditentukan oleh perimbangan perhatian terhadap dua hal tersebut (shareholder dan stakeholder). Program CSR tampaknya menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari oleh sebuah korporasi untuk mewujudkan perimbangan ini, yakni sebagai bentuk tanggung jawab kepada stakeholder.

Cara yang terbaik untuk menunjukkan CSR adalah dengan menurunkan harga jual produk yang dijual ke masyarakat ?

Menurut saya hal ini sangat tergantung pada model bisnis perusahaan bersangkutan. Ada aktivitas CSR yang dapat berkaitan langsung dengan bisnis inti, ada pula yang tidak bisa.

Jika perusahaan tersebut:

  1. produknya menguasai hajat hidup orang banyak dan digunakan oleh masyarakat luas;
  2. oleh karena faktor-faktor tertentu masyarakat tidak mempunyai pilihan lain selain produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut (tidak ada substitusi);
  3. produknya dapat menjadi pemicu pergerakan ekonomi masyarakat;

maka salah satu program CSR-nya dapat berkaitan dengan bisnis inti perusahaan tersebut, diantaranya dalam penurunan harga jual produk. Perusahaan-perusahaan yang dapat melakukan program CSR seperti itu diantaranya adalah perusahaan yang menjual produk berikut:

  • informasi dan komunikasi;
  • energi listrik;
  • bahan bakar untuk umum;
  • kredit perbankan untuk usaha mikro, kecil dan menengah;
  • bahan kebutuhan pokok

Meskipun berkaitan langsung dengan kegiatan inti perusahaan, kegiatan CSR tetap harus dipisahkan dari kegiatan marketing.

 

Menurunkan harga jual produk tentu akan secara langsung berakibat pada penurunan profit dari produk yang terjual, akan tetapi akan memberikan benefit. Selainkan mengokohkan entitas bisnis korporasi, CSR juga mencitrakan sebagai perusahaan yang peduli pada pertumbuhan kesejahteraan masyarakat. Tetapi apakah merupakan praktek CSR yang baik?

 

Program-program CSR harus melalui pengkajian terhadap kondisi sosial ekonomi, kondisi lingkungan, dan visi – misi korporasi. Program CSR merupakan bentuk kepedulian korporasi terhadap hal tersebut di atas, oleh karena itu maka pola penyusunan program CSR harus merupakan inisiatif top down, harus diprakarsai oleh top management. Kegiatan-kegiatan program CSR harus mencerminkan triple bottom line yang meliputi kegiatan ekonomi, masyarakat dan lingkungan hidup.

Ditinjau dari aspek-aspek yang harus dipenuhi dalam program CSR, menurunkan harga jual produk hanya memenuhi aspek tertentu saja, tidak dapat mencakup keseluruhan aspek. Perlu tindakan yang lainnya yang harus dilakukan oleh korporasi untuk memenuhi aspek-aspek program CSR. Namun demikian, korporasi harus fokus dalam menetapkan program CSR yang akan dijalankannya, agar hasilnya dapat signifikan. Korporasi dapat memilih topik-topik krusial yang dibutuhkan oleh masyarakat, baik masyarakat sekitar domisili korporasi, maupun masyarakat di wilayah lain yang perlu diperhatikan. Setelah dipilih fokus kegiatan CSR, korporasi harus mampu melakukan asessment internal untuk menilai kapasitas organisasi dalam menjalankan program CSR tersebut. Jika penurunan harga jual produk merupakan satu langkah yang dapat dilakukan, maka hal itu dapat dijalankan sejauh tidak menggangu aktivitas utama sebagai entitas bisnis.

 

Sebaliknya, untuk perusahaan-perusahaan yang produknya bukan merupakan bahan kebutuhan pokok masyarakat, dapat memilih program CSR yang tidak berkaitan langsung dengan bisnis inti perusahaan.

 

Arsitektur pemasaran Diklat pada PPPPTK BMTI

Posted in 1 on May 2, 2009 by ahmadsobandi

 

 

Sesuai dengan namanya, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri memiliki core business pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) khususnya PTK sekolah kejuruan. Salah satu produk andalan institusi ini adalah jasa pendidikan dan pelatihan peningkatan kompetensi. Sejak awal berdiri hingga sekira awal tahun 2000, PPPPTK BMTI berkonsentrasi pada segmen PTK SMK karena memang tugas pokok dan tanggung jawabnya adalah pengembangan PTK SMK. Pada era otonomi daerah sekarang ini PPPPTK BMTI sebagai UPT Depdiknas menjadi terbatas dalam menjangkau stakeholder sekaligus konsumen utamanya, yakni PTK sekolah menengah kejuruan. Menghadapi kondisi ini PPPPTK BMTI harus memperhitungkan kembali strategi bisnis, tactic, dan value yang dimilikinya, sementara kapasitas dan kapabilitasnya yang telah dikembangkan selama puluhan tahun dituntut untuk dapat dimanfaatkan secara optimal.

 

Menghadapi perkembangan yang terjadi belakangan ini, menurut saya langkah-langkah yang harus ditempuh adalah:

 

Segmentasi: memperluas Segmen pasar

Semakin terbatasnya akses terhadap konsumen menuntut organisasi harus mampu memperluas pasar yang selama ini digarap. Dynamic attribute segmentation merupakan pendekatan yang tepat untuk menghadapi kondisi pasar yang juga dinamis. Organisasi harus mampu meraih pasar yang selama ini terabaikan yakni PTK di luar sekolah menengah kejuruan, diantaranya PTK SD – SMA, PTK pendidikan non formal, dan tenaga instruktur di industri. Oleh karena itu organisasi melakukan segmentasi terhadap pasar semacam itu. Untuk memanfaatkan idle capacity yang dimiliki lembaga, individual juga menjadi pasar yang menarik untuk digarap.

 

Targetting: fokus pada kompetensi vokasional

Target segmen pasar PPPPTK BMTI harus semakin dipertajam, yakni PTK vokasional. Segmen ini cukup besar karena meliputi berbagai kelompok, tidak hanya PTK sekolah menengah kejuruan. Untuk menggarap segmen ini organisasi memiliki keunggulan kompetitif yang cukup kuat dan harus terus dikembangkan, yakni sumber daya manusia yang memiliki kompetensi kejuruan spesifik, kualifikasi pendidikan dari dalam dan luar negeri, dan pengalaman praktis di dunia industri; puluhan tahun pengalaman organisasi sejak menjadi perintis dalam pengembangan pendidikan kejuruan; serta jejaring dengan dunia industri dan asosiasi profesi baik dalam maupun luar negeri. Persaingan dalam menggarap segmen ini belum terlalu ketat, mengingat pemain di segmen ini belum begitu banyak. Akan tetapi organisasi perlu memperhitungkan tingkat persaingan di masa yang akan datang karena organisasi/lembaga sejenis yang dikelola pihak swasta mulai tumbuh.

 

Positioning: lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan profesional berwawasan global

Sejak pendirian, PPPPTK BMTI menerapkan sistem pendidikan yang sangat ketat dalam menjaga kualitas lulusan dan mempersiapkan lulusannya untuk unggul dalam persaingan global. Pada saat awal pengembangannya, pendidikan kejuruan merupakan sektor ‘kelas dua’ dalam tatanan pendidikan formal di Indonesia. Akan tetapi, organisasi berhasil menanamkan ‘pride, dignity, dan identity’ pada peserta didiknya sehingga para alumni berprestasi menonjol di tempat kerja masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya. Kini persepsi masyarakat mengenai pendidikan kejuruan telah berubah, pendidikan kejuruan telah berhasil menempatkan diri ’sejajar’ bahkan ‘diatas’ pendidikan formal lainnya. Oleh karena itu sekaranglah saatnya organisasi melakukan reposisi sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan profesional berwawasan global, sesuatu hal yang masih terpatri dalam benak dan memori para alumni.

 

 

Diferensiasi

Dalam upaya melakukan diferensiasi, organisasi harus menciptakan program-program yang unik dengan layanan prima. Konten disusun dengan komposisi 60% praktek kejuruan, 30% teori kejuruan, dan 10% pendalaman kompetensi humaniora (keguruan, psikologi, dan komunikasi masa). Program yang ditawarkan ini didukung oleh pelayanan prima, diantaranya dengan metode dan model pembelajaran yang efektif dan efisien, pembelajaran yang terintegrasi dengan industri; serta infrastruktur yang memungkinkan peserta diklat fokus dan mendapatkan nilai lebih dari apa yang diharapkannya. Dukungan infrastruktur ini diantaranya adalah ruang kelas, lab, bengkel, dan workshop yang representatif; asrama yang terintegrasi dalam kampus dengan layanan setara hotel berbintang; SDM yang memiliki kualifikasi pendidikan spesifik, kompeten di bidangnya, dan pengalaman praktis di industri; serta dukungan teknologi informasi dalam pelayanan administrasi mulai dari self registration secara online, self access sumber belajar dan evaluasi, pelayanan keuangan, hingga evaluasi dampak diklat.

 

Marketing mix: Alumni sebagai media pemasaran

Bagi organisasi yang menjual produk jasa berupa pendidikan dan pelatihan, alumni dapat dijadikan sebagai ujung tombak pemasaran. Selama mengikuti proses, peserta diklat harus dijaga agar kompetensi yang diharapkannya tercapai, kepuasannya terjaga, serta pendidikan dan pelatihan yang dijalaninya memberikan dampak positif bagi pengembangan dirinya. Menyampaikan ‘pesan’ melalui alumni adalah media komunikasi efektif dalam pemasaran jasa diklat.

 

Selling: memelihara hubungan dengan alumni untuk meningkatkan penjualan

Jalinan yang kuat antara organisasi dan alumni telah menumbuhkan jejaring yang sebelumnya tidak diperhatikan. Ibarat anak dengan induknya, meskipun sudah ‘disapih’ alumni akan masih dapat mengandalkan organisasi tempatnya ‘ditempa’ untuk mendapatkan saran pengembangan bagi kompetensi yang telah diperolehnya. Organisasi harus tetap memelihara hubungan harmonis ini agar dapat mempertahankan daya jualnya. Saya akan bertumpu pada jejaring antara organisasi dengan alumni sebagai kekuatan selling utama. Program-program penjualan lainnya dibentuk untuk membangun dan mendukung kekuatan selling utama tersebut.

 

 

 

Brand: memperkuat identitas organisasi

Bagi sebuah organisasi yang menjual jasa pendidikan dan pelatihan, menciptakan brand adalah satu hal yang sulit, akan tetapi sangat menantang. Pada kebanyakan kasus, brand suatu produk akan melekat dengan pencitraan organisasi/korporasi. Demikian pula pada organisasi yang menjual jasa diklat, brand tersebut akan tercermin dari citra organisasi/korporasi itu sendiri. Oleh karena itu, saya akan berupaya untuk tetap memelihara dan memperkuat brand image yang sudah melekat pada organisasasi saya: TEDC (technical education development center). Brand image yang dimiliki organisasi saya sekaligus merupakan identitas organisasi, yaitu pelopor dan pengembang pendidikan menengah kejuruan.

 

Service: mendidik, melatih, dan mengembangkan kompetensi para profesional

Menciptakan tenaga terampil di bidang vokasional mungkin dapat dilakukan dengan cara selain pendidikan dan pelatihan, misalnya program magang atau autodidak. Akan tetapi, organisasi saya menawarkan peningkatan kompetensi tenaga profesional tidak hanya pada ranah keterampilan vokasional semata, akan tetapi juga pada ranah emosional, manajerial, dan ranah lain yang dihasilkan dari suatu proses pendidikan. Selain peningkatan kompetensi di bidang kehaliannya, organisasi harus mampu membuka peluang karir yang lebih baik bagi pelanggan (alumninya) sebagai bagian dari dampak pendidikan dan pelatihan.

 

Process: sang senjata pemusnah massal

Bagi saya, pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan merupakan hal yang paling utama dalam menjalankan core business organisasi. Maju-mundur, kuat-lemahnya organisasi ditentukan oleh keberhasilan proses ini karena dalam proses ini banyak pihak yang terlibat, baik pihak internal maupun pihak eksternal organisasi. Pemantauan terhadap proses penyelenggaraan diklat menjadi tugas penting yang harus dilakukan agar semua pihak mendukung upaya value creation yang dilakukan oleh organisasi. Semua aktivitas yang dilakukan diupayakan bermuara kepuasan pelanggan, baik kepuasan pelayanan akademik, pelayanan non akademik, maupun ketercapaian tujuan organisasi. Pada tahap ini pengendalian atas aktivitas pihak pendukung kegiatan harus mendapat porsi yang cukup, supaya proses ini mampu memperkuat brand image yang melekat pada organisasi.