Arsitektur pemasaran Diklat pada PPPPTK BMTI
Sesuai dengan namanya, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri memiliki core business pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) khususnya PTK sekolah kejuruan. Salah satu produk andalan institusi ini adalah jasa pendidikan dan pelatihan peningkatan kompetensi. Sejak awal berdiri hingga sekira awal tahun 2000, PPPPTK BMTI berkonsentrasi pada segmen PTK SMK karena memang tugas pokok dan tanggung jawabnya adalah pengembangan PTK SMK. Pada era otonomi daerah sekarang ini PPPPTK BMTI sebagai UPT Depdiknas menjadi terbatas dalam menjangkau stakeholder sekaligus konsumen utamanya, yakni PTK sekolah menengah kejuruan. Menghadapi kondisi ini PPPPTK BMTI harus memperhitungkan kembali strategi bisnis, tactic, dan value yang dimilikinya, sementara kapasitas dan kapabilitasnya yang telah dikembangkan selama puluhan tahun dituntut untuk dapat dimanfaatkan secara optimal.
Menghadapi perkembangan yang terjadi belakangan ini, menurut saya langkah-langkah yang harus ditempuh adalah:
Segmentasi: memperluas Segmen pasar
Semakin terbatasnya akses terhadap konsumen menuntut organisasi harus mampu memperluas pasar yang selama ini digarap. Dynamic attribute segmentation merupakan pendekatan yang tepat untuk menghadapi kondisi pasar yang juga dinamis. Organisasi harus mampu meraih pasar yang selama ini terabaikan yakni PTK di luar sekolah menengah kejuruan, diantaranya PTK SD – SMA, PTK pendidikan non formal, dan tenaga instruktur di industri. Oleh karena itu organisasi melakukan segmentasi terhadap pasar semacam itu. Untuk memanfaatkan idle capacity yang dimiliki lembaga, individual juga menjadi pasar yang menarik untuk digarap.
Targetting: fokus pada kompetensi vokasional
Target segmen pasar PPPPTK BMTI harus semakin dipertajam, yakni PTK vokasional. Segmen ini cukup besar karena meliputi berbagai kelompok, tidak hanya PTK sekolah menengah kejuruan. Untuk menggarap segmen ini organisasi memiliki keunggulan kompetitif yang cukup kuat dan harus terus dikembangkan, yakni sumber daya manusia yang memiliki kompetensi kejuruan spesifik, kualifikasi pendidikan dari dalam dan luar negeri, dan pengalaman praktis di dunia industri; puluhan tahun pengalaman organisasi sejak menjadi perintis dalam pengembangan pendidikan kejuruan; serta jejaring dengan dunia industri dan asosiasi profesi baik dalam maupun luar negeri. Persaingan dalam menggarap segmen ini belum terlalu ketat, mengingat pemain di segmen ini belum begitu banyak. Akan tetapi organisasi perlu memperhitungkan tingkat persaingan di masa yang akan datang karena organisasi/lembaga sejenis yang dikelola pihak swasta mulai tumbuh.
Positioning: lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan profesional berwawasan global
Sejak pendirian, PPPPTK BMTI menerapkan sistem pendidikan yang sangat ketat dalam menjaga kualitas lulusan dan mempersiapkan lulusannya untuk unggul dalam persaingan global. Pada saat awal pengembangannya, pendidikan kejuruan merupakan sektor ‘kelas dua’ dalam tatanan pendidikan formal di Indonesia. Akan tetapi, organisasi berhasil menanamkan ‘pride, dignity, dan identity’ pada peserta didiknya sehingga para alumni berprestasi menonjol di tempat kerja masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya. Kini persepsi masyarakat mengenai pendidikan kejuruan telah berubah, pendidikan kejuruan telah berhasil menempatkan diri ’sejajar’ bahkan ‘diatas’ pendidikan formal lainnya. Oleh karena itu sekaranglah saatnya organisasi melakukan reposisi sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan profesional berwawasan global, sesuatu hal yang masih terpatri dalam benak dan memori para alumni.
Diferensiasi
Dalam upaya melakukan diferensiasi, organisasi harus menciptakan program-program yang unik dengan layanan prima. Konten disusun dengan komposisi 60% praktek kejuruan, 30% teori kejuruan, dan 10% pendalaman kompetensi humaniora (keguruan, psikologi, dan komunikasi masa). Program yang ditawarkan ini didukung oleh pelayanan prima, diantaranya dengan metode dan model pembelajaran yang efektif dan efisien, pembelajaran yang terintegrasi dengan industri; serta infrastruktur yang memungkinkan peserta diklat fokus dan mendapatkan nilai lebih dari apa yang diharapkannya. Dukungan infrastruktur ini diantaranya adalah ruang kelas, lab, bengkel, dan workshop yang representatif; asrama yang terintegrasi dalam kampus dengan layanan setara hotel berbintang; SDM yang memiliki kualifikasi pendidikan spesifik, kompeten di bidangnya, dan pengalaman praktis di industri; serta dukungan teknologi informasi dalam pelayanan administrasi mulai dari self registration secara online, self access sumber belajar dan evaluasi, pelayanan keuangan, hingga evaluasi dampak diklat.
Marketing mix: Alumni sebagai media pemasaran
Bagi organisasi yang menjual produk jasa berupa pendidikan dan pelatihan, alumni dapat dijadikan sebagai ujung tombak pemasaran. Selama mengikuti proses, peserta diklat harus dijaga agar kompetensi yang diharapkannya tercapai, kepuasannya terjaga, serta pendidikan dan pelatihan yang dijalaninya memberikan dampak positif bagi pengembangan dirinya. Menyampaikan ‘pesan’ melalui alumni adalah media komunikasi efektif dalam pemasaran jasa diklat.
Selling: memelihara hubungan dengan alumni untuk meningkatkan penjualan
Jalinan yang kuat antara organisasi dan alumni telah menumbuhkan jejaring yang sebelumnya tidak diperhatikan. Ibarat anak dengan induknya, meskipun sudah ‘disapih’ alumni akan masih dapat mengandalkan organisasi tempatnya ‘ditempa’ untuk mendapatkan saran pengembangan bagi kompetensi yang telah diperolehnya. Organisasi harus tetap memelihara hubungan harmonis ini agar dapat mempertahankan daya jualnya. Saya akan bertumpu pada jejaring antara organisasi dengan alumni sebagai kekuatan selling utama. Program-program penjualan lainnya dibentuk untuk membangun dan mendukung kekuatan selling utama tersebut.
Brand: memperkuat identitas organisasi
Bagi sebuah organisasi yang menjual jasa pendidikan dan pelatihan, menciptakan brand adalah satu hal yang sulit, akan tetapi sangat menantang. Pada kebanyakan kasus, brand suatu produk akan melekat dengan pencitraan organisasi/korporasi. Demikian pula pada organisasi yang menjual jasa diklat, brand tersebut akan tercermin dari citra organisasi/korporasi itu sendiri. Oleh karena itu, saya akan berupaya untuk tetap memelihara dan memperkuat brand image yang sudah melekat pada organisasasi saya: TEDC (technical education development center). Brand image yang dimiliki organisasi saya sekaligus merupakan identitas organisasi, yaitu pelopor dan pengembang pendidikan menengah kejuruan.
Service: mendidik, melatih, dan mengembangkan kompetensi para profesional
Menciptakan tenaga terampil di bidang vokasional mungkin dapat dilakukan dengan cara selain pendidikan dan pelatihan, misalnya program magang atau autodidak. Akan tetapi, organisasi saya menawarkan peningkatan kompetensi tenaga profesional tidak hanya pada ranah keterampilan vokasional semata, akan tetapi juga pada ranah emosional, manajerial, dan ranah lain yang dihasilkan dari suatu proses pendidikan. Selain peningkatan kompetensi di bidang kehaliannya, organisasi harus mampu membuka peluang karir yang lebih baik bagi pelanggan (alumninya) sebagai bagian dari dampak pendidikan dan pelatihan.
Process: sang senjata pemusnah massal
Bagi saya, pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan merupakan hal yang paling utama dalam menjalankan core business organisasi. Maju-mundur, kuat-lemahnya organisasi ditentukan oleh keberhasilan proses ini karena dalam proses ini banyak pihak yang terlibat, baik pihak internal maupun pihak eksternal organisasi. Pemantauan terhadap proses penyelenggaraan diklat menjadi tugas penting yang harus dilakukan agar semua pihak mendukung upaya value creation yang dilakukan oleh organisasi. Semua aktivitas yang dilakukan diupayakan bermuara kepuasan pelanggan, baik kepuasan pelayanan akademik, pelayanan non akademik, maupun ketercapaian tujuan organisasi. Pada tahap ini pengendalian atas aktivitas pihak pendukung kegiatan harus mendapat porsi yang cukup, supaya proses ini mampu memperkuat brand image yang melekat pada organisasi.